Saat ini, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna mengatakan, anggotanya tengah menelusuri seluruh aset terdaftar yang ada di timur Pulau Dewata tersebut.
"Kami mencatatkan semua aset-aset yang ada di Bali, yang diperkirakan akan terkena dampak gempa tektonik atau terkena abu tektonik atau terkena lava," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (4/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sementara, tidak tertutup risiko baru dengan perluasan-perluasan akibat gempa gunung berapi tersebut," kata Dadang.
Namun, perkiraan potensinya juga belum bisa dibagi oleh Jasindo. "Ya pokoknya, kami dalam posisi menunggu. Sesuai prosedur tetap, tentu kami siap," tutur Direktur Operasi dan Ritel Jasindo Sahata L. Tobing.
Sementara, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida bilang, lembaganya siap mengambil kebijakan terkait di sektor jasa keuangan, baik yang ditujukan ke perbankan dan industri keuangan non bank (IKNB).
"Saat nanti diperlukan sikap OJK, kami akan mengambil suatu kebijakan. Karena pernah terjadi di daerah lain, misalnya di Yogyakarta lalu," terang Nurhaida.
Gunung Agung sendiri mulai menunjukkan aktivitas kegempaan sejak pertengahan September lalu. Tercatat, Gunung Agung mengalami gempa sebanyak 27 kali pada Jumat (15/9). Lalu, terus meningkat sampai hari ini dengan status di level IV.