Asuransi Mulai Hitung Estimasi Klaim Bencana Gunung Agung

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 04/10/2017 12:32 WIB
Asuransi Mulai Hitung Estimasi Klaim Bencana Gunung Agung Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mengatakan, anggotanya tengah menelusuri aset terdaftar yang berpotensi terdampak bencana Gunung Agung di Bali. (Thinkstock/Kritchanut).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pelaku usaha asuransi umum mengaku mulai menghitung estimasi klaim yang mungkin diajukan sejumlah nasabah yang terdampak bencana Gunung Agung di Karangasem, Bali.

Saat ini, Ketua Umum Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) Dadang Sukresna mengatakan, anggotanya tengah menelusuri seluruh aset terdaftar yang ada di timur Pulau Dewata tersebut.

"Kami mencatatkan semua aset-aset yang ada di Bali, yang diperkirakan akan terkena dampak gempa tektonik atau terkena abu tektonik atau terkena lava," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Rabu (4/10).


Bahkan, seiring berlangsungnya aktivitas kegempaan di Bali, pihak asuransi terus memperluas dampak ganti rugi yang perlu ditanggung.

"Sementara, tidak tertutup risiko baru dengan perluasan-perluasan akibat gempa gunung berapi tersebut," kata Dadang.

Sayangnya, ia belum bisa memberi data terkait jumlah nasabah, jenis aset yang diklaim, hingga potensi ganti rugi tersebut. Sebab, masih perlu dihimpun satu per satu dari masing-masing pelaku industri asuransi.

Dari industri asuransi, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) misalnya, mengaku siap memberikan ganti rugi atas klaim yang masuk nanti bila bencana Gunung Agung benar-benar melanda aset dan nasabah di Bali.

Namun, perkiraan potensinya juga belum bisa dibagi oleh Jasindo. "Ya pokoknya, kami dalam posisi menunggu. Sesuai prosedur tetap, tentu kami siap," tutur Direktur Operasi dan Ritel Jasindo Sahata L. Tobing.

Sementara, Wakil Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Nurhaida bilang, lembaganya siap mengambil kebijakan terkait di sektor jasa keuangan, baik yang ditujukan ke perbankan dan industri keuangan non bank (IKNB).

Namun, hal itu baru ditempuh OJK bila bencana Gunung Agung benar-benar memberikan kerugian kepada nasabah lembaga jasa keuangan. Sementara, saat ini, OJK melihat belum ada indikasi ke sana.

"Saat nanti diperlukan sikap OJK, kami akan mengambil suatu kebijakan. Karena pernah terjadi di daerah lain, misalnya di Yogyakarta lalu," terang Nurhaida.

Gunung Agung sendiri mulai menunjukkan aktivitas kegempaan sejak pertengahan September lalu. Tercatat, Gunung Agung mengalami gempa sebanyak 27 kali pada Jumat (15/9). Lalu, terus meningkat sampai hari ini dengan status di level IV.