TOP TALKS

Jurus Mastercard Pacu Inklusi Keuangan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 09/10/2017 13:49 WIB
Jurus Mastercard Pacu Inklusi Keuangan President Mastercard Center for Inclusive Growth Shamina Singh menyampaikan inklusi keuangan menjadi bagian dari misi Mastercard hadir di Indonesia. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta)
Jakarta, CNN Indonesia -- Upaya meningkatkan inklusi keuangan bukan hanya tantangan yang dihadapi oleh Indonesia, tetapi juga berbagai negara di dunia. Dengan inklusi keuangan, tercipta pembangunan yang merata dan dapat dimanfaatkan seluruh lapisan masyarakat.

Inklusi keuangan juga menjadi bagian dari misi Mastercard hadir di Indonesia. Hal itu disampaikan President Mastercard Center for Inclusive Growth Shamina Singh saat berbincang dengan CNNIndonesia.com. Berikut petikan wawancaranya:

Apa yang menjadi fokus Mastercard Center for Inclusive Growth, baik secara global maupun di Indonesia?


Terdapat 17 tujuan yang telah disepakati oleh 130 negara untuk diatasi bersama dalam kerangka tujuan pertumbuhan berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs). Mulai dari mengatasi kemiskinan, pendidikan, kesetaraan gender, hingga pertumbuhan ekonomi.

Hal yang menjadi fokus kami di sini adalah tujuan ke-8 dalam SDGs yakni, layanan keuangan untuk semua lapisan dan inklusi keuangan. Tujuan SDGs ini telah disepakati oleh 130 negara dan ditargetkan tercapai pada 2030.

Kalau melihat tahun 2030 sebagai perbandingan untuk melihat pergerakan dunia, peran Indonesia menjadi sangat penting karena terkait dengan upaya inklusi pada perekonomian formal.

Jika melihat SDGs, Indonesia menarik karena hadirnya pertumbuhan kelas menengah. Oleh karena pertumbuhan ekonomi Indonesia terdepan di kawasan, kami memperkirakan saat tujuan SDGs tercapai pada 2030, setidaknya ada 140 juta orang yang masuk ke kelas menengah di Indonesia. Pada saat yang sama, terdapat 1,4 miliar orang yang masuk ke kelas menengah dari negara kawasan Asia, di luar China.

Kalau melihat itu, nantinya populasi tersebut memiliki kemampuan untuk membeli lebih banyak, mengkonsumsi lebih banyak, akan sangat mengubah bagaimana kita melihat dunia dan lebih memikirkan tentang pertumbuhan inklusif.

Inklusi keuangan yang saat ini menjadi fokus pemerintah Indonesia adalah soal membawa orang-orang ke perekonomian formal, memastikan bahwa masyarakat bisa bertransaksi dengan aman, memiliki tabungan, memiliki asuransi, dan mengembangkan pendapatan secara terstruktur dan bertanggung jawab.

Hal ini melibatkan pendidikan keuangan, literasi keuangan, dan program pemerintah. Ini membangun sebuah hubungan antara masyarakat dengan bagaimana dan di mana mereka memperoleh penghasilan, membelanjakan uang, dan menabung. Hal-hal itu yang membuat Mastercard melihat seluruhnya sebagai ekosistem yang merupakan kepingan dari inklusi keuangan.

Jadi, inklusi keuangan tidak hanya berhenti pada identitas dan akun bank. Itu satu bagian. Keuangan inklusi adalah tentang berpartisipasi di perekonomian formal. Untuk bisa berpartisipasi dalam inklusi keuangan, masyarakat harus bisa menggunakan uangnya di perekonomian formal dengan mengkombinasikan pendidikan dan penerimaan merchant.

Kalau masyarakat sudah masuk dalam perekonomian formal dan mulai bertransaksi menggunakan kartu Mastercard maupun melalui telepon genggam, mereka harus bisa menggunakannya di suatu tempat. Bertransaksi secara tunai bukan inklusi keuangan dan masih belum berpartisipasi dalam perekonomian formal.


Saat ini, 85 persen dari seluruh transaksi di dunia adalah dalam bentuk tunai. Bisa dibayangkan perlu biaya besar untuk ditanggung oleh suatu negara negara guna menjaga infrastruktur demi menopang ekonomi yang berbasis tunai.

Karenanya, kami fokus pada inklusi keuangan tetapi tidak berhenti di situ. Kami fokus pada pertumbuhan inklusif. Pertumbuhan inklusif sudah satu level di atas inklusi keuangan. Itu yang kami inginkan untuk dicapai oleh Jakarta, Indonesia, dan

Bagaimana definisi pertumbuhan inklusi yang diharapkan?

Pertumbuhan inklusi artinya sudah ada kesetaraan dan keberlanjutan pertumbuhan ekonomi untuk semua orang. Artinya, setiap orang mendapatkan bagian dalam suatu perekonomian yang tumbuh.

Kami percaya pertumbuhan inklusif bisa dicapai melalui inklusi keuangan, pertumbuhan ekonomi yang bertanggung jawab, edukasi, ekosistem yang menghubungan sistem pembayaran digital kepada konsumen dan strategi yang lebih besar yang memungkinkan untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang setara dan berkelanjutan.

Itu yang kami inginkan untuk Indonesia. Itu yang kami inginkan untuk dunia. Itu yang kami inginkan sebagai Center for Inclusive Growth.

Apa yang Anda maksud dengan perekonomian formal?

Perekonomian formal adalah perekonomian dengan transaksi dalam sistem yang diatur, dengan keamanan dan perlindungan konsumen. Tanpa perlindungan konsumen dan keamanan, perekonomian akan rentan oleh perdagangan gelap dan kriminalitas.

Bagaimana perkembangan dari upaya untuk mencapai inklusi keuangan hingga kini?

Saat ini, kami telah mendapatkan 310 juta konsumen baru yang masuk dalam perekonomian formal. Dari sisi merchant, kami sudah menghubungkan 5,1 juta merchant.

Hal menarik yang kami lihat di seluruh dunia adalah adanya peralihan yang besar. Saat ini, kami memiliki 710 program dengan pemerintah di berbagai negara di seluruh dunia, mencerminkan pendekatan yang unik agar misi keuangan inklusif tercapai.

Jadi, fokus kami adalah bekerja dengan pemerintah di berbagai negara untuk membantu masyarakat. Kami telah memberikan saran kepada pemerintah tentang mengajak masyarakat masuk ke dalam perekonomian formal.

Apa tantangan terbesar untuk meningkatkan inklusi keuangan?

Saya rasa dunia telah berkomitmen untuk mencapai inklusi keuangan sepenuhnya pada 2020. Mastercard memegang komitmen tersebut. CEO kami, Ajay Banga, merupakan pemimpin pertama dalam komite pengarah inklusi keuangan untuk World Economic Forum. Ajay memimpin bersama Kepala Global International Finance Corporation.

Saat Ajay memegang posisi itu, Ajay bekerja dengan Bank Dunia untuk membuat perusahaan-perusahaan menandatangani komitmen untuk mencapai inklusi keuangan.

Mastercard berkomitmen untuk mencapai 500 juta konsumen baru pada 2020. Kami juga berkomitmen untuk menghubungkan 40 juta merchant baru. Secara ekosistem, hal ini tidak bisa hanya individual tanpa merchant, harus ada dua-duanya. Bank Dunia telah berkomitmen. Perusahaan lain juga telah berkomitmen.


Tantangan terbesar adalah akses kepada akun bank tidak mumpuni. Masyarakat harus memiliki kemampuan untuk menggunakannya. Jadi, tantangan besar itu sekarang adalah penggunaan. Pemerintah sedang mengupayakan hal itu.

Pemerintah Indonesia mengatakan bahwa mereka sedang mengupayakan digitalisasi bantuan subsidi sosial. Mereka akan mendigitalisasi seluruh uang dari pemerintah langsung ke rekening bank sehingga pemerintah Indonesia mulai membiasakan dengan pembayaran secara elektronik.

Generasi muda mudah memahaminya (pembayaran secara elektronik). Tidak ada masalah. Mereka langsung bisa melakukan tap atau menggunakan kartu.

Sementara itu, kalangan orang tua membutuhkan waktu. Mungkin ada beberapa ketakutan seputar 'di mana uang saya?', 'dari mana uangnya keluar?', 'bagaimana saya menggunakan?', dan 'di mana saya bisa menggunakan?'.

Tantangan terbesar adalah penggunaan, memastikan bahwa ketika uang sudah masuk ke dalam rekening bank, orang benar-benar menggunakan uangnya. Hal ini melibatkan pendidikan, keterjangkauan, budaya, wanita. Hal ini menantang sejumlah aspek dalam perekonomian.

Untuk Indonesia, hal apa yang harus dilakukan untuk meningkatkan inklusi keuangan?

Saya pikir kesempatan terbesar ada di usaha kecil. Usaha kecil memiliki daya dorong yang besar dalam perekonomian.

Saya akan mengatakan, sangat penting bagi pendidikan dan penyebaran inklusi keuangan untuk fokus pada usaha kecil karena usaha kecil paling banyak menyerap tenaga kerja, merupakan mesin penggerak terbesar dalam perekonomian, dan kebanyakan pelakunya adalah wanita.

Kemarin, kami mengumumkan kemitraan dengan Ikatan Wanita Pengusaha Indonesia, Femina Group dan Commonwealth Bank untuk membantu pengusaha wanita mengembangkan usahanya melalui teknologi, sebagai bagian mendorong inklusi keuangan.

Pekerjaan rumah yang yang perlu diselesaikan ialah menciptakan lingkungan yang memungkinkan usaha untuk tumbuh dan berhasil. Hal itu terkait cara bekerja sama, melaksanakan peraturan, melakukan transaksi perbankan, dan cara mendapatkan pinjaman untuk mengembangkan bisnis. Artinya, banyak pekerjaan yang harus dilakukan seiring berjalannya waktu untuk memanfaatkan potensi besar yang sudah ada di Indonesia.


Bagaimana Anda membangun kepercayaan kepada konsumen, terutama di Indonesia?

Saat kami mengembangkan suatu program dengan pemerintah Nigeria, Menteri Keuangan Nigeria pada kala itu mengatakan, saat Mastercard masuk ke Nigeria dan mengembangkan suatu program itu memberikan sinyal penting kepada dunia bahwa dunia bisa percaya untuk membuka bisnis di Nigeria karena Mastercard hanya berbisnis di tempat yang adil, aman, dan legal.

Dengan Mastercard berbisnis di Indonesia, itu memberikan sinyal yang penting kepada seluruh dunia bahwa jika mereka berinvestasi di sini, datang ke sini, berbelanja di sini, Indonesia adalah tempat yang aman untuk berbisnis. Kami tidak diperbolehkan untuk berbisnis di tempat yang tidak aman dan tidak legal.

Menurut Anda, apakah ada pengalaman terbaik dari negara lain yang bisa dicontoh oleh Indonesia untuk meningkatkan inklusi keuangan?

Jika saya harus memilih satu negara sangat sulit. Kami telah bekerja untuk 710 program dengan pemerintah dari berbagai negara. Hal yang saya lihat adalah pelajaran berbeda dari setiap negara. Ketika pelajaran itu digabung maka pelajaran itu dapat dibawa ke Indonesia.

Sebagai contoh, Meksiko memiliki strategi yang kuat dalam inklusi keuangan, termasuk menciptakan lingkungan yang memungkinkan. Jadi Meksiko sangat jelas saat mengatakan 'Kami harus melibatkan peran swasta' 'Kami harus memiliki peraturan yang mendukung dari sisi pemerintah yang memungkinkan bisnis untuk berkembang bersama'.

Jadi, Meksiko memiliki seperangkat regulasi d lingkungan yang memungkinkan ekspansi bisnis. Meksiko juga menggelar pertemuan setiap tahun yang dihadiri oleh sektor swasta, pemerintah, lembaga non-profit untuk menegaskan kembali komitmen untuk mencapai inklusi keuangan.

Dengan demikian, pemerintah tidak berjalan sendiri, sektor swasta tidak berjalan sendiri, dan sektor sosial tidak berjalan sendiri. Mereka bertemu setiap tahun untuk berbicara masalah hal apa yang berjalan, hal apa yang tidak berjalan, hal apa yang harus dilakukan, hal apa yang harus dilakukan dengan berbeda. Menurut saya, ini merupakan model yang menarik.

Di Afrika Selatan, ada pendekatan teknologi layanan keuangan di toko kelontong. Jadi, daripada konsumen datang langsung ke bank yang belum tentu ada, masyarakat bisa bertransaksi perbankan sederhana di toko kelontong seperti laku pandai.

Ide umumnya adalah membuat transaksi lebih mudah untuk konsumen. Kita akan melihat lebih banyak teknologi yang akan memungkinkan itu ke depan seperti biometrik, pengenal suara.

Kami melihat banyak tipe teknologi seperti ini dan kemajuan yang terjadi di berbagai negara. Tidak ada negara model. Masing-masing negara berusaha untuk mendapatkan model yang sesuai dengan pasarnya masing-masing.

Program apa lagi yang akan dilakukan Mastercard di Indonesia untuk mendukung inklusi keuangan?

Masih banyak lagi, tetapi belum dipublikasikan. Ke depan, kami akan mengumumkan lebih banyak lagi program yang akan kami lakukan.

Salah satu hal menurut saya perlu ditekankan adalah masalah kepercayaan. Saya rasa penting merek Mastercard dibawa ke Indonesia dan Asia. Yang ingin saya katakan, orang harus percaya bahwa uang yang dimiliki aman.

Mastercard sudah berada di 210 pasar sehingga merupakan jaringan global. Ketika orang datang ke Indonesia dan mereka melihat Mastercard ada di sini, mereka akan merasa aman karena saat mereka bertransaksi mereka menggunakan merek yang mereka biasa lihat di negara lain.

Jadi, hal yang penting tidak hanya pembelajaran, tetapi juga kepercayaan yang timbul seiring keberadaan Mastercard di tingkat global akan menjadi fokus kami di Indonesia.

(lav/bir)