Harga Minyak Mentah Tertekan Kelebihan Pasokan BBM AS

Yuli Yanna Fauzie , CNN Indonesia | Jumat, 13/10/2017 08:22 WIB
Harga Minyak Mentah Tertekan Kelebihan Pasokan BBM AS Harga minyak mentah Brent turun US$0,75 per barel atau sekitar 1,3 persen dari US$56,94 per barel menjadi US$56,19 per barel pada Kamis (12/10). Ilustrasi. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia melemah pada penutupan perdagangan Kamis (12/10), karena tertekan lonjakan persediaan Bahan Bakar Minyak (BBM) Amerika Serikat (AS), seiring meningkatnya hasil produksi minyak mentah.

Dikutip dari Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$0,75 per barel atau sekitar 1,3 persen dari US$56,94 per barel menjadi US$56,19 per barel. Sementara itu, harga minyak mentah AS, West Texas Intermediate (WTI) melemah hingga US$1 per barel atau sekitar 1,9 persen menjadi US$50,3 per barel dari semula US$51,3 per barel.

American Petroleum Institute mencatat, persediaan minyak mentah AS meningkat sekitar 3,1 juta barel menjadi 468,5 barel pada pekan lalu.

Hal ini rupanya langsung menekan harga minyak mentah yang berhasil menguat beberapa hari lalu dan meningkat signifikan dari semula di kisaran US$30 per barel pada awal tahun ini.

Adapun pemicu kenaikan harga lantaran Negara-negara Pengekspor Minyak Bumi (Organization of the Petroleum Exporting Countries/OPEC) dan Non-OPEC sepakat membatasi produksi minyak mentah guna menopang harga di pasar dunia.

Tercatat, OPEC dan Non-OPEC, seperti Rusia telah sepakat memangkas produksi minyak mentah sekitar 1,8 juta barel per hari (bph). Bahkan, OPEC dan Non-OPEC juga telah memberi sinyal akan memperpanjang pembatasan produksi yang semula ditargetkan hanya sampai Maret 2018.

Sementara itu, Badan Energi Internasional (International Energy Agency/IEA) menyebut permintaan minyak mentah OPEC sebesar 32,5 juta bph.


"Ini berarti, OPEC harus memperdalam pemotongan produksinya untuk menyelesaikan tugasnya membawa kembali stok minyak ke rata-rata lima tahun terakhir," ucap Carsten Fritsch, analis komoditas Commerzbank di Frakfurt.

Kendati begitu, IEA melihat, komitmen beberapa produsen minyak terkemuka untuk membatasi produksi bisa saja meluntur bila permintaan minyak terus meningkat.

"Ada sedikit keraguan bahwa produsen terkemuka telah berkomitmen untuk melakukan apa pun untuk mendukung pasar," tulis IEA dalam laporan yang dirilis kemarin.

Namun, dengan seluruh sentimen yang ada, lembaga finansial Goldman Sachs menilai, masih ada peluang harga minyak mentah Brent bertengger di kisaran US$50-60 per barel sampai penghujung tahun ini. Sementara itu, para pelaku pasar AS memproyeksi, rata-rata harga Brent di angka US$58 per barel sampai akhir tahun.