Perbankan Klaim Aliran Utang Infrastruktur Minim Macet

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Sabtu, 14/10/2017 17:53 WIB
Perbankan Klaim Aliran Utang Infrastruktur Minim Macet Ilustrasi. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay).
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbankan mengaku kredit yang mengalir di proyek-proyek infrastruktur pemerintah minim persoalan, sehingga tak banyak mengerek rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) bank.

SVP Corporate Banking PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Alexandra Wiyoso mengungkapkan, sumbangan NPL dari kredit infrastruktur sangat kecil. Bahkan bila diakumulasi dengan keseluruhan kredit korporasi saja, dia menyebutkan, angkanya tak sampai 1,0 persen.

"NPL corporate banking saja di bawah satu persen, sehingga khususnya untuk infrastruktur jauh di bawah itu," ujar Alexandra, Jumat (13/10).



Dia mengaku, perusahaan memberikan alokasi kredit dengan persentase lebih besar ke infrastruktur karena risiko macetnya rendah. Targetnya, minimal tumbuh 10 persen dari tahun lalu yang mencapai Rp226 triliun. Artinya, untuk tahun ini, target kredit infrastruktur Mandiri bisa menembus hampir Rp250 triliun.

Sayang, Alexandra masih enggan berbagi angka penyaluran kredit infrastruktur sampai September lalu. "Tapi untuk kuartal IV saja, masih ada Rp15-20 triliun untuk tambahan sindikasi. Itu sebagian besar untuk infrastruktur," katanya.

Jika diurutkan, sambung Alexandra, porsi kredit ke infrastruktur tercatat mencapai 40 persen dari total kredit yang disalurkan perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) itu.

Dari total 40 persen tersebut, sekitar 75 persen dialirkan untuk proyek pembangunan pembangkit listrik dan jalan tol. "Sisanya untuk konstruksi juga," imbuhnya.


Sementara itu, PT Bank Central Asia Tbk atau BCA mengklaim, tak mendapat kredit macet dari proyek infrastruktur. "Tidak ada sumbangan NPL dari sini. Karena infrastrukturkan juga baru beberapa tahun ini banyak diberikannya," kata SVP Corporate Banking BCA Yuli Melati Suryaningrum.

Untuk itu, kata Yuli, perusahaan berani mengerek porsi penyaluran kredit infrastruktur hampir 50 persen pada 2017 dari realisasi tahun lalu. Bahkan, pada tahun depan direncanakan bisa tumbuh 50 persen lagi.

Sampai akhir tahun ini, Yuli memperkirakan, jumlah kredit ke infrastruktur bisa mencapai Rp50 triliun. Namun, penarikan kreditnya diperkirakan baru mencapai Rp30 triliun.

"Memang di era Presiden Jokowi ini banyak, apalagi tahun depan banyak bangun jalan tol. Jadi, pertumbuhan (kredit) tahun depan bisa sampai 50 persen juga," tambahnya.

Namun, seperti halnya Bank Mandiri, saluran kredit infrastruktur BCA banyak mengalir ke proyek pembangkit listrik dan jalan tol. "Tapi tidak semuanya dengan BUMN. Ada juga yang dengan sesama swasta," pungkasnya.

Sampai 2019 mendatang, Presiden Jokowi memasang target membangun infrastruktur sebanyak 245 Proyek Strategis Nasional (PSN) dengan nilai mencapai Rp4.197 triliun. Pembangunan infrastruktur beragam, mulai dari pembangkit listrik, jalan tol, pelabuhan, bandara, jembatan, hingga kawasan industri.