Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita mengatakan, hal ini dibuktikan dari tingkat inflasi yang sudah menyusut di tahun ketiga Jokowi memerintah. Tercatat, inflasi secara bulanan (month to month/mtm) September sebesar 0,13 persen.
Sedangkan secara tahun kalender (year to date/ytd) sebesar 2,66 persen dan dalam perhitungan tahunan (year on year/yoy) sebesar 3,72 persen.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Memang Pak Presiden tekankan agar aksesnya (distribusi) harus bisa didapat. Selain itu, kesediaan bahan pokok, serapan produksi, dan harga turun lalu stabil," ujar Enggar di Kantor Staf Presiden (KSP), Selasa (17/10).
"Jadi, bahan pokok yang bisa diproduksi maka wajib diserap. Kemudian, pengendalian harganya kami keluarkan harga acuan, HET," imbuhnya.
Produksi Terserap Cepat
Dari sisi petani, HET membuat seluruh hasil produksi petani terserap dengan cepat, sehingga tak ada yang tertimbun dan menimbulkan kerugian. Peran Badan Urusan Logistik (Bulog) juga ditingkatkan agar mampu menyerap seluruh hasil produksi pertanian.
Sementara itu, masyarakat juga memperoleh harga pangan yang rendah karena penerapan HET tersebut. Sebab, rantai pasok yang dilalui pangan tak lagi berbelit-belit dan menghabiskan banyak biaya seperti dulu.
Enggar mengaku, rantai pasok dan distribusi pangan yang lebih baik menyebabkan pemerintah tak perlu lagi membuka keran impor besar-besaran untuk beberapa komoditas.
Bahkan, beberapa komoditas mengalami kelebihan pasokan hingga bisa diekspor karena struktur produksi dan serapannya dinilai membaik seperti, beras dan bawang merah.
Lihat juga:Darmin Puji Tiga Pencapaian Utama Jokowi |