Ketua DPRD Jawa Tengah Rukma Setyabudi mengaku, pihaknya menerima banyak keluhan dari BPR BKK di beberapa Kabupaten/Kota dimana segmen pasarnya terus dipenetrasi oleh Bank Jateng, bahkan hingga ke tingkat paling bawah seperti Kecamatan/Kelurahan.
"Banyak itu kalangan BPR BKK pada mengeluh, kok nasabahnya pada beralih ke Bank Jateng. Ini karena program kreditnya memiliki bunga lebih kecil dari BPR/BKK. Padahal sumbernya sama, kenapa harus ada saling sikut. Ini kan tidak baik, makanya kami soroti ini", ungkap Rukma di Semarang, Senin (23/10).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Keluhan saling sikut berebut nasabah ini juga membuat dana yang dimiliki BPR BKK bisa harus mengendap lama di Bank Jateng, tidak bisa diputarkan karena berkurangnya nasabah. Jika hal ini dibiarkan berlarut-larut, maka kalangan BPR BKK disebut akan memindahkan dananya ke bank lain.
"Gerilya Bank Jateng sampai level terbawah yang seharusnya merupakan market BPR/BKK pastinya meresahkan kami. Ya sudah, kalau dibiarkan terus, kami akan menarik dana kami yang berjumlah Rp. 200 milyar di Bank Jateng untuk dipindahkan ke bank lain", kata Dirut PD BPR BKK Purwokerto Kabupaten Banyumas Sugeng Prijono.
Menanggapi adanya keluhan ini, Bank Jateng siap membuka diri dan berkomunikasi untuk mencari solusinya.
Lihat juga:LPS: Banyak BPR Gulung Tikar karena Fraud |
"Sebagai mitra tentunya kami ingin bekerja bersama agar maju dan bertumbuh. Mari kita cari solusi bersama", ungkap Kepala Divisi Perwakilan Bank Jateng Antoni.