Subsidi KUR Tahun Depan Dikerek Jadi Rp11,98 Triliun

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 27/10/2017 09:41 WIB
Subsidi KUR Tahun Depan Dikerek Jadi Rp11,98 Triliun Kenaikan alokasi subsidi Kredit Usaha Rakyat (KUR) bakal diikuti penurunan tingkat bunga agar margin laba perbankan tidak tergerus. (CNN Indonesia/Safir Makki)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pemerintah mengalokasikan anggaran subsidi bunga Kredit Usaha Rakyat (KUR) sebesar Rp11,98 triliun dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018. Jumlah tersebut naik 32,8 persen dari pagu tahun ini yang sebesar Rp9,02 triliun.

Direktur Jenderal Anggaran Kementerian Keuangan (Kemenkeu) Askolani mengungkapkan, pihaknya baru sebatas mengalokasikan anggaran. Sementara, detil kebijakan KUR tahun depan masih harus dibahas lebih lanjut bersama Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian.

Karena itu, Askolani enggan berkomentar terkait rencana penurunan bunga KUR tahun depan dari 9 persen menjadi 7 persen.



"Itu baru pagunya. Mengenai kebijakan [subsidi bunga BUR] biasanya akan dibahas lagi untuk 2018 di Menteri Perekonomian," ujar Askolani melalui pesan singkat kepada CNNIndonesia.com, Kamis (27/10).

Kenaikan alokasi subsidi itu bakal diikuti penurunan tingkat bunga KUR. Hal itu merupakan konsekuensi yang tidak bisa dihindari jika pemerintah tak ingin menggerus margin perbankan.

Direktur Utama PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BRI) Suprajarto mengungkapkan, dalam salah satu simulasi turunnya bunga KUR menjadi 7 persen tanpa diikuti penurunan target penyaluran dan subsidi tambahan, pendapatan perseroan bakal tergerus sebesar Rp700 miliar.

"Kami berharap subsidi dari pemerintah seharusnya ditambah. Itu harapan kami," ujar Suprajarto.

Kalaupun pemerintah tidak menambah subsidi, perseroan tetap akan menyalurkan KUR dengan melakukan efisiensi dengan memanfaatkan teknologi. Misalnya melalui aplikasi BRIspot dan MyBRI.

"Nanti ada yang namanya BRI spot, MyBRI. Bagaimana yang kecil-kecil ditangani dengan lebih efisien, tenaga pemasaran juga hemat pemanfaatan online. Ini akan mengurangi overhead cost kami dan terus menekan cost of fund,” ujarnya.

Sepanjang Januari hingga awal Oktober 2017, perseroan telah menyalurkan KUR sebesar Rp53,8 triliun kepada 2,9 juta debitur baru atau sekitar 75,8 persen dari target tahun ini. Sekitar Rp40 triliun telah disalurkan kepada sektor produktif.

Sementara, Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Henry Koenaifi meyakini pemerintah bakal meningkatkan alokasi subsidi bunga jika rencana penurunan bunga KUR terealisasi.


Dengan demikian, perbankan tidak akan dirugikan dan bisa terus berpartisipasi dalam program yang memperluas akses kredit bagi masyarakat ini.

"Kalaupun bunga KUR diturunkan di 7 persen, biasanya pemerintah juga akan memberikan subsidi sehingga tidak sampai merugikan bagi kami. Jadi kami tetap akan mendukung seperti yang diharapkan," ujar Henry.

Per akhir September, perusahaan dengan kode saham BBCA ini telah menyalurkan KUR sebesar Rp71,3 miliar, dari target Rp100 miliar.