"Kita (Indonesia) memang harus meningkatkan devisa karena untuk rasio utang luar negeri terhadap penerimaan devisa itu kita harus kerja keras untuk menyamai dengan misalnya Thailand dan Filipina ," ujar Deputi Gubernur Senior BI Mirza Adityaswara dalam acara Economic and Capital Market Outlook 2018 di Graha CIMB Niaga, Selasa (31/10).
Mirza mengungkapkan, berdasarkan data terakhir, rasio utang terhadap penerimaan transaksi berjalan (current account receipt) Indonesia mencapai 172,4 persen.
Sementara itu, Thailand hanya sebesar 44,4 persen, Filipina 65 persen, dan India 95 persen. Hal itu dipicu oleh banyaknya kegiatan yang memicu pemasukan devisa seperti ekspor dan tingginya remitansi dari tenaga kerja yang bekerja di luar negeri.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain itu, Mirza juga mendorong pemerintah terus meningkatkan investasi dengan cara memperbaiki iklim usaha di Indonesia.
"Tingkatkan investasi dan usahakan investasi yang bisa menghasilkan devisa," ujarnya.