Pasalnya, masih ada dokumen syarat pencairan pembiayaan yang perlu dilengkapi oleh pemerintah dan PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor proyek.
Direktur Utama SMI Emma Sri Martini merinci, antara lain belanja modal, mekanisme subsidi untuk tarif tiket LRT dan perjanjian konsesi PT Kereta Api Indonesia (Persero). Diharapkan, kelengkapan ini bisa dipenuhi dalam jangka waktu dua pekan ke depan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dari sisi belanja modal, ia menyebut, Kementerian Perhubungan telah menyusun struktur anggaran terbaru, dimana ada tambahan investasi sebesar Rp1,5 triliun sampai Rp1,6 triliun. Namun, ia mengaku, belum melihat rincian nilai investasi baru tersebut.
Untuk urusan subsidi, Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi bilang, sebelumnya pemerintah sudah menghitung besaran subsidi yang akan diberikan untuk tarif LRT.
Awalnya, subsidi yang akan diterima KAI mencapai Rp16 triliun selama masa konsesi 12 tahun, dengan asumsi pertumbuhan penumpang 5 persen per tahun.
“Ini akan dirapatkan besok, tanggal 2 November, 3 November, lalu disambung 6 November dan 7 November untuk bahas konsesi, penentuan tarif, dan beberapa hal yang harus diputus,” tutur Budi.
Sebelumnya, anggaran LRT Jabodebek diperkirakan mencapai Rp27 triliun, terdiri atas Rp24 triliun untuk pengadaan prasarana dan Rp3 triliun lainnya untuk sarana.
Proyek LRT Jabodebek ini masih dalam tahap pengerjaan oleh Adhi Karya dan akan dioperatori oleh KAI sesuai Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2017.
Rencananya, LRT tahap pertama melintang sepanjang 43,3 kilometer (km) dan memiliki 16 stasiun di sepanjang jalurnya. Adapun, empat stasiun akan tersedia di sepanjang lintas Cawang-Cibubur.
Tujuh stasiun di lintas Cawang-Kuningan, Dukuh Atas, dan lima stasiun di jalur Bekasi Timur-Cawang.