Bank Indonesia Ajak Wirausahawan Garap Pasar Produk Halal

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Rabu, 08/11/2017 07:43 WIB
Bank Indonesia Ajak Wirausahawan Garap Pasar Produk Halal Bank Indonesia mendorong wirausahawan domestik menggarap pasar produk halal di Indonesia demi mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia. (ANTARA FOTO/Pradita Utama).
Surabaya, CNN Indonesia -- Bank Indonesia (BI) mendorong wirausahawan domestik menggarap pasar produk yang mendukung gaya hidup halal di Indonesia demi mendorong perkembangan ekonomi syariah di Indonesia.

Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia (BI) Provinsi Jawa Timur Difi Ahmad Johansyah menyampaikan, semakin banyak pasar berbasis syariah yang digarap oleh pelaku usaha, maka keuangan dan ekonomi syariah di Indonesia bakal berkembang dengan sendirinya.

"Kalau sudah muncul entrepreneur-entrepreneur dengan sendirinya Lembaga Keuangan Syariah berkembang karena ada yang diberi kredit dan pembiayaan," ujar Difi di sela Indonesia Sharia Economic Festival (ISEF) ke-4 di Surabaya, Selasa (7/11).



Meskipun Indonesia memiliki populasi muslim yang besar, Difi mengungkapkan, namun dari sisi produksi produk halal masih tertinggal oleh negara lain.

Difi menyebutkan, produsen produk makanan bersertifikasi halal dipegang oleh Thailand. Kemudian, di sektor pakaian atau fashion dipegang oleh China. Di sektor produk kecantikan, Korea dan Jepang masih memegang posisi teratas.

Ke depan, potensi Indonesia dalam pasar produk halal sangat besar. Hal itu sejalan dengan Undang-undang Nomor 33 tahun 2014 tentang Jaminan Produk Halal pada tahun 2019.

"Apa rela kita sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar menjadi pasar bagi negara lain?" ujar Difi.

Indonesia, lanjut Difi, memiliki potensi yang besar untuk mengembangkan destinasi pariwisata halal seperti di Lombok, Nusa Tenggara Barat. Hal sama juga telah dilakukan oleh Malaysia.

Difi berharap paradigma publik soal perekonomian syariah tidak terbatas pada lembaga keuangan syariah, namun pasar gaya hidup halal yang saat ini sedang menjadi tren. Dengan demikian, percepatan pengembangan ekonomi syariah bisa terwujud.


Namun, Difi menyadari untuk menciptakan wirausahawan yang berani menggarap pasar produk halal tidak mudah. Karenanya, BI dan Otoritas Jasa keuangan (OJK) bakal mendorong pengembangan kapasitas Lembaga Keuangan Mikro berbasis syariah untuk dapat memberikan program pendampingan bagi wirausahawan.

Kepala Departemen Pengembangan UMKM Yunita Resmi Sari menambahkan, untuk Indonesia, produk makanan halal bisa menjadi unggulan Indonesia. Pasalnya, saat ini pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah terbanyak dari sektor pertanian dan produk turunannya.

Hal itu terbukti saat menggelar ISEF, pelaku yang paling banyak terlibat adalah dari sektor kuliner. Setelah itu, produk fashion juga berpotensi menjadi unggulan Indonesia.

"Kalau ingin menggabungkan dari penawaran dan penawan memang dua produk itu [makanan dan fashion] bisa menjadi unggulan," ujarnya.

Pekerjaan rumah berikutnya, lanjut Yunita, adalah mengarahkan pelaku usaha untuk memperoleh sertifikasi halal.

(lav/bir)