REKOMENDASI SAHAM

Penurunan Harga Saham ICBP dan RALS Goda Investor 'Ngeborong'

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Senin, 13/11/2017 11:11 WIB
Penurunan Harga Saham ICBP dan RALS Goda Investor 'Ngeborong' Analis menilai secara teknikal saham ICBP dan RALS menarik, sehingga direkomendasikan beli (buy) untuk saham produsen mi instan dan Ramayana. (CNN Indonesia/Hesti Rika Pratiwi).
Jakarta, CNN Indonesia -- Anjloknya harga saham PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (ICBP) membuat sejumlah analis menempatkan saham perusahaan pada posisi beli (buy) untuk pekan ini.

Sepanjang pekan lalu, harga saham Indofood CBP ini terjun 2,57 persen ke level Rp8.525 per saham. Sementara, pada awal pekan lalu, Senin (6/11), harga sahamnya masih di level Rp8.750 per saham.

Padahal, saham perusahaan yang termasuk dalam Grup Salim ini tercatat tumbuh tipis 0,28 persen pada pekan sebelumnya atau ditutup di level Rp8.850 per saham.


"ICBP sudah berada dalam tren penurunan, direkomendasikan buy karena sudah berada di titik bawah," ungkap Analis Senior Mega Capital Indonesia Fikri Syaryadi kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (13/11).

Sayangnya, rekomendasi buy ini hanya dilihat secara teknikal. Pasalnya, pertumbuhan laba bersih Indofood CBP pada kuartal III 2017 hanya di bawah 10 persen atau sebesar 7,4 persen bila dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya.

Indofood CBP membukukan laba bersih sebesar Rp3,04 triliun dari sebelumnya Rp2,83 triliun. Kemudian, pendapatannya juga meningkat tipis 3,6 persen menjadi Rp27,43 triliun.

"Kalau dari laporan keuangan saham ICBP tidak menarik, tapi kalau teknikal justru menarik," terang Fikri.

Analis Binaartha Sekuritas Muhammad Nafan Aji Gusta Utama juga merekomendasikan buy untuk Indofood CBP karena terlihat akan membentuk pola tren kenaikan pada perdagangan selanjutnya.

"Terlihat (pola saham ICBPP) mengindikasikan potensi stimulus beli," ucap Nafan.

Tak main-main, Nafan memasang target harga untuk saham Indofood CBP hingga ke level Rp9.225 per saham. Bila dilihat dari bisnis perusahaan, lanjut Nafan, segmen mi instan masih akan menjadi penopang pendapatan utama bagi perusahaan.

"Ini seiring dengan penguasaan mi instan di Indonesia," imbuh dia.

Merujuk pada laporan keuangan perusahaan, segmen bisnis mi instan menyumbang pendapatan terbesar, yakni 63 persen. Sementara, sisanya dari bisnis dairy 20 persen, makanan ringan tujuh persen, penyedap makanan tiga persen, nutri serta makanan khusus, termasuk minuman masing-masing dua persen dan lima persen.

Selanjutnya, saham ritel PT Ramayana Lestari Sentosa Tbk (RALS) juga dinilai menarik untuk dicermati. Harga saham Ramayana Lestari turun cukup dalam hingga 4,15 persen ke level Rp925 per saham pada akhir pekan lalu, Jumat (10/11).

"RALS sebagai laggard dibandingkan dengan PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), karena laggard (sahamnnya tertinggal, maka direkomendasikan buy," ujar Kepala Riset Trimegah Sekuritas Sebastian Tobing.

Laggard bisa diartikan sebagai saham yang tertinggal. Dengan kata lain, saham Ramayana Lestari dinilai lebih tertinggal dibandingkan dengan Matahari Department Store, di mana keduanya berada dalam satu indeks sektoral, yakni sub sektor ritel.

Meski saham Matahari Department Store juga tercatat melemah pada akhir pekan lalu, tetapi penurunannya hanya satu persen ke level Rp9.900 per saham.

Sementara, pelaku pasar juga disarankan masuk ke saham berbasis komoditas minyak sawit mentah (Crude Palm Oil/CPO) karena cuaca di Indonesia saat ini sudah lebih stabil.

Lebih jauh Nafan mengungkapkan, dua saham berbasis CPO atau perkebunan yang bisa dicermati, yaitu PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) dan PT Perusahaan Perkebunan London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP).

"(Untuk AALI) akumulasi beli dengan target harga jangka pendek, menengah, maupun jangka panjang di level Rp15.000 per saham, Rp15.600 per saham, dan Rp17.100 per saham," paparnya.

Selain karena cuaca, sambung dia, saham anak usaha PT Astra International Tbk (ASII) ini juga ditopang oleh kinerja keuangan perusahaan yang cemerlang pada kuartal III 2017.

Laba bersih perusahaan melejit 22,8 persen menjadi Rp1,4 triliun dari sebelumnya Rp1,14 triliun. Sementara, pendapatan perusahaan tumbuh 30,37 persen dari Rp9,58 triliun menjadi Rp12,49 triliun.

"Kinerja keuangan perusahaan tidak lepas dari kemampuan manajemen untuk meningkatkan produksi CPO maupun minyak inti kelapa sawit (Palm Kernel Oil/PKO)," jelas Nafan.

Adapun, sentimen positif bagi PP London juga tak berbeda jauh dengan Astra Agro, yakni peningkatan produksi CPO dan PKO. Untuk itu, Nafan menargetkan harga saham PP London di level Rp1.620 per saham dan Rp1.685 per saham secara bertahap.

Penurunan Harga Saham ICBP dan RALS Goda Investor 'Ngeborong' (CNN Indonesia/Hesti Rika).


Saham Perbankan Primadona

Di sisi lain, Fikri mengemukakan, saham sektor perbankan masih bisa menjadi santapan pelaku pasar untuk pekan ini. Menurutnya, imbal hasil (return) yang diraih dari sektor perbankan selalu menggembirakan bagi pelaku pasar yang melakukan perdagangan jangka pendek.

"Saham perbankan walaupun harga sudah di atas, tapi masih ada potensi naik, perbankan ini memang primadona saham," ungkapnya.

Beberapa saham perbankan yang dimaksud, antara lain PT Bank Mandiri Tbk (BMRI), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI), dan PT Bank Central Asia Tbk (BBCA).

Potensi kenaikan saham tersebut bukan hanya dari sisi teknikal, melainkan juga sisi fundamental perusahaan. Dalam hal ini, seluruh perusahaan tersebut membukukan kinerja positif sepanjang sembilan bulan pertama tahun 2017.

Untuk BCA, laba bersih tumbuh 11 persen menjadi Rp16,8 triliun dari sebelumnya Rp15,1 triliun. Kemudian, Bank Mandiri mencatat laba bersih Rp15,1 triliun atau melonjak 25,4 persen dari Rp12 triliun.

Sementara itu, laba bersih BRI meningkat 8,2 persen dari Rp18,95 triliun menjadi Rp20,51 triliun, dan laba bersih BNI naik 31,6 persen menjadi Rp10,16 triliun dari Rp7,72 triliun.

"Jadi, sebenarnya, semakin takut pelaku pasar untuk trading di perbankan, harganya bukan turun, tapi semakin maksimal, meski memang ada naik dan turunnya," tutur Fikri.

Kebetulan, pada akhir pekan lalu Jumat (10/11), mayoritas harga saham perbankan berakhir di teritori negatif. Dari empat saham yang direkomendasikan, BNI satu-satunya yang berhasil bertahan di zona hijau meski stagnan di level Rp7.975 per saham.

Kemudian, saham BCA turun tipis 0,72 persen ke level Rp20.650 per saham, Bank Mandiri terkoreksi 0,35 persen menjadi Rp7.050 per saham, dan BRI melemah 0,3 persen ke level Rp3.280 per saham. (bir)