Bos BEI Usul Anak Usaha BUMN Beri Diskon 20 Persen Harga IPO

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Selasa, 14/11/2017 07:16 WIB
Bos BEI Usul Anak Usaha BUMN Beri Diskon 20 Persen Harga IPO BEI mengusulkan saham IPO anak usaha BUMN didiskon 20 persen dari harga rentang maksimum yang ditawarkan guna menjaga harga sahamnya tetap di teritori positif. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Bursa Efek Indonesia (BEI) menyarankan agar anak Badan Usaha Milik Negara (BUMN) memberikan diskon 20 persen dalam menetapkan harga penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) dari harga rentang maksimum yang ditawarkan.

Direktur Utama BEI Tito Sulistio menyebut, hal ini dilakukan demi menjaga harga saham anak BUMN tetap berada di teritori positif atau pelaku pasar tidak langsung melakukan merealisasikan keuntungannya setelah saham dicatatkan di BEI.

"Nih, IPO dari maksimum harga potong dong 20 persen untuk kasih pelaku pasar untung, jangan di maksimum harga," kata Tito, Senin (13/11).


Saat ini, menurut dia, rata-rata saham anak BUMN yang baru IPO terpantau melemah usai IPO. Berbeda dengan emiten perusahaan rintisan (startup) yang harga sahamnya justru melejit usai pencatatan saham.

Beberapa startup itu, misalnya PT M Cash Integrasi Tbk (MCAS) dan PT Kioson Komersial Indonesia Tbk (KIOS). Seperti diketahui, BEI memang baru kedatangan tamu baru berbasis startup tahun ini.

Lebih jelas, Kioson Komersial mencatatkan sahamnya pada 5 Oktober 2017 dan M Cash pada 1 November 2017. Untuk Kioson, harga sahamnya kini sudah melambung tinggi ke level Rp2.920 per saham atau meningkat 421,42 persen dari harga awal perdagangan Rp560 per saham.

Sementara itu, meski M Cash tidak mencatatkan kenaikan, tetapi harga sahamnya stabil di level sekitar Rp2.400. Sedangkan pada harga perdana di level Rp2.580 per saham.


"Nah harga saham juga sebenarnya dampak persepsi orang terhadap perusahaannya," sambung Tito.

Tito menambahkan, meski terjadi realitas yang kurang positif untuk anak BUMN usai IPO tahun ini, tetapi ia menyarankan agar anak BUMN segera IPO untuk memperkuat pasar modal.

"Jadi BUMN tolong jangan berpendapat kalau pasar bagus baru privatisasi, sebaliknya kalau privatisasi pasar jadi bagus," tandas Tito.

Bahkan, ia menyarankan, pembeli dari IPO anak BUMN hanya pelaku pasar domestik. Menurut Tito, hal ini sudah sudah dilakukan di luar negeri, seperti China dan Malaysia.


"Kalau bagus berani kasih lokal dulu, kalau lokal untung maka Dana Pensiun (Dapen) juga untung," pungkas Tito.

Sebagai informasi, hingga akhir tahun ini masih ada tiga anak BUMN yang dijadwalkan bakal melantai di BEI. Ketiganya, yakni PT PP Presisi, PT Wika Gedung, dan PT Jasa Armada Indonesia (JAI). Namun, sepanjang tahun ini baru ada satu anak BUMN yang mencatatkan sahamnya, yakni PT Garuda Maintenance Facility Aero Asia Tbk (GMFI).

(agi/agi)