Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sebagian besar ekspor ini masih ditujukan untuk negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Ekspor Indonesia ke China, contohnya, mencapai US$16,91 miliar atau 13,47 persen dari total nilai ekspor Januari-Oktober.
Selain China, Amerika Serikat juga menjadi negara tujuan ekspor dengan nilai US$14,21 miliar atau 11,32 persen dari nilai ekspor. Meski demikian, Suhariyanto bilang negara-negara tujuan ekspor Indonesia makin terdiversifikasi dengan pembukaan pasar-pasar baru.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Bahkan, kami mencatat, pertumbuhan ekspor untuk produk karet dan non karet ke Turki saja bertumbuh 62 persen antara Januari hingga Oktober,” ujarnya di Gedung BPS, Rabu (15/11).
“Kalau ke Mesir, sebagian ekspor didorong oleh ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah. Kami senang dengan angka ini, karena menunjukkan ada upaya pemerintah untuk merambah pasar non-tradisional,” ungkapnya.
Menurut dia, diversifikasi pasar menjadi penting, mengingat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.
Memang, komoditas yang banyak diekspor ke China adalah golongan bijih, kerak, dan abu logam, serta lemak dan bahan baku nabati yang memiliki pertumbuhan yang sangat baik sepanjang tahun ini. Namun, ia berharap, diversifikasi pasar ini diperlukan untuk menjaga ekspor netto, yang nantinya bisa menopang pertumbuhan ekonomi di kuartal IV.
“Kami harap diversifikasi pasar bisa terus dilakukan,” paparnya.
Indonesia mencetak surplus perdagangan sebesar US$11,78 miliar antara Januari hingga Oktober, di mana angka ini meningkat 53,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya US$7,65 miliar.
Di antara seluruh negara mitra dagang, Indonesia mengalami surplus terbesar dengan India dan Amerika Serikat dengan masing-masing angka surplus 8,46 persen dan 7,9 persen. (bir)