Ekspor ke Negara Nontradisional Berbuah Manis

Galih Gumelar , CNN Indonesia | Rabu, 15/11/2017 15:16 WIB
Ekspor ke Negara Nontradisional Berbuah Manis BPS melansir, terjadi pertumbuhan ekspor sejumlah komoditas di negara-negara tujuan nontradisional, seperti Turki, Mesir, dan Brazil. (CNN Indonesia/Puput Tripeni Juniman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Pusat Statistik (BPS) membukukan akumulasi nilai ekspor sebesar US$138,5 miliar secara tahun kalender (year to date) atau meningkat 17,49 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya US$117,9 miliar.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, sebagian besar ekspor ini masih ditujukan untuk negara-negara mitra dagang utama Indonesia. Ekspor Indonesia ke China, contohnya, mencapai US$16,91 miliar atau 13,47 persen dari total nilai ekspor Januari-Oktober.

Selain China, Amerika Serikat juga menjadi negara tujuan ekspor dengan nilai US$14,21 miliar atau 11,32 persen dari nilai ekspor. Meski demikian, Suhariyanto bilang negara-negara tujuan ekspor Indonesia makin terdiversifikasi dengan pembukaan pasar-pasar baru.

Ia mencontohkan, Turki yang nilai perdagangan year to date bertumbuh 10,16 persen dibandingkan tahun lalu. Adapun, sebagian besar produk yang diekspor ke Turki merupakan karet dan bahan-bahan karet.

“Bahkan, kami mencatat, pertumbuhan ekspor untuk produk karet dan non karet ke Turki saja bertumbuh 62 persen antara Januari hingga Oktober,” ujarnya di Gedung BPS, Rabu (15/11).

Tak hanya ke Turki, pertumbuhan kinerja ekspor ke negara-negara tujuan baru, seperti Brazil dan Mesir juga mengalami perbaikan. Untuk Brazil, Suhariyanto menyebutkan, terjadi pertumbuhan ekspor sebesar 13,54 persen yang didorong oleh karet dan barang karet.

Sementara itu, pertumbuhan ekspor ke Mesir pada Januari hingga Oktober tercatat naik 11,3 persen dibanding periode yang sama tahun lalu.

“Kalau ke Mesir, sebagian ekspor didorong oleh ekspor kopi, teh, dan rempah-rempah. Kami senang dengan angka ini, karena menunjukkan ada upaya pemerintah untuk merambah pasar non-tradisional,” ungkapnya.

Menurut dia, diversifikasi pasar menjadi penting, mengingat neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit dengan China, yang merupakan mitra dagang terbesar Indonesia.

Adapun, defisit perdagangan dengan China antara Januari hingga Oktober tercatat US$11,07 miliar, di mana angka ini ekuivalen dengan 65,46 persen dari total ekspor Indonesia sendiri.

Memang, komoditas yang banyak diekspor ke China adalah golongan bijih, kerak, dan abu logam, serta lemak dan bahan baku nabati yang memiliki pertumbuhan yang sangat baik sepanjang tahun ini. Namun, ia berharap, diversifikasi pasar ini diperlukan untuk menjaga ekspor netto, yang nantinya bisa menopang pertumbuhan ekonomi di kuartal IV.

“Kami harap diversifikasi pasar bisa terus dilakukan,” paparnya.

Indonesia mencetak surplus perdagangan sebesar US$11,78 miliar antara Januari hingga Oktober, di mana angka ini meningkat 53,98 persen dibandingkan tahun sebelumnya US$7,65 miliar.

Di antara seluruh negara mitra dagang, Indonesia mengalami surplus terbesar dengan India dan Amerika Serikat dengan masing-masing angka surplus 8,46 persen dan 7,9 persen. (bir)