Bisnis Kartu Kredit Bakal Terkerek Natal dan Tahun Baru

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 16/11/2017 09:25 WIB
Bisnis Kartu Kredit Bakal Terkerek Natal dan Tahun Baru Transaksi belanja bakal melonjak untuk memenuhi kebutuhan perayaan Natal dan Tahun Baru diperkirakan akan mendorong bisnis kartu kredit di akhir tahun. (CNN Indonesia/ Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Momentum akhir tahun memberikan angin segar bagi bisnis kartu kredit perbankan. Pasalnya, transaksi belanja bakal melonjak untuk memenuhi kebutuhan perayaan Natal dan Tahun Baru.

"Secara historis, (kenaikan transaksi) dibandingkan rata-rata bulan sebelumnya mungkin bisa sekitar 15 persen. Tahun ini, kami masih menargetkan 15 persen," ujar General Manager Asosiasi Kartu Kredit Indonesia (AKKI) Steve Martha saat dihubungi CNNIndonesia.com, Rabu (15/11).

Steve mengungkapkan, transaksi kartu kredit akan banyak dilakukan untuk memenuhi kebutuhan kuliner, busana, dan perjalanan. Pasalnya, banyak yang memanfaatkan cuti di akhir tahun untuk liburan. Terlebih, perbankan juga memfasilitasi kebutuhan masyarakat tersebut dengan menggelar sejumlah promo akhir tahun.


Menurut Steve, tahun ini, bisnis kartu kredit sudah mulai pulih meskipun jumlah pemegangnya menurun. Setelah tahun lalu, volume transaksi sempat turun tipis, Steve optimistis volume transaksi kartu kredit tahun ini bisa tumbuh di kisaran lima hingga tujuh persen.

Berdasarkan data Bank Indonesia (BI), jumlah kartu kredit yang beredar hingga akhir September 2017 mencapai 16,9 juta keping atau turun sekitar 500 ribu keping dibandingkan posisi akhir tahun lalu, 17,4 juta keping.

Sementara, nilai transaksi kartu kredit hingga September 2017 mencapai Rp219,96 triliun, naik 6,5 persen secara tahunan (yoy). Capaian itu membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu di mana nilai transaksi kartu kredit turun satu persen dibanding tahun sebelumnya.

Pada periode yang sama, volume transaksi kartu kredit tercatat tumbuh 7,9 persen (yoy) menjadi 242,36 juta transaksi atau melambat jika dibandingkan September 2016 yang tumbuh 8,4 persen.

Direktur PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) Anggoro Eko Cahyo meyakini transaksi kartu kredit perseroan bakal naik di akhir tahun.

"Kalau dilihat dari pengalaman tahun-tahun lalu, kalau lebaran (transaksi) lebih banyak kepada fashion. Kalau tahun baru dan natal gini ada tambahannya yaitu liburan," ujar Anggoro saat ditemui di Kantor Kementerian BUMN.

Menurut Anggoro, tren liburan sendiri kian marak belakangan seiring populernya kebutuhan untuk kesenangan (leisure) masyarakat. Hal ini berimbas positif pada kartu kredit yang digunakan untuk alat pembayaran pemesanan tiket perjalanan.Per pertengahan November, baki debet kartu kredit perseroan telah mencapai Rp11,6 triliun. Padahal, tahun ini perseroan hanya menargetkan di kisaran Rp11,4 triliun hingga Rp11,5 triliun.

Salah satu strategi perseroan yaitu mengeluarkan produk kartu kredit yang menunjang kebutuhan perjalanan pengguna yaitu kartu kredit yang bermitra dengan PT Garuda Indonesia Tbk dan kartu kredit Titanium yang menyasar generasi muda.

Presiden Direktur PT Bank Central Asia Tbk (BCA) Jahja Setiaatmadja juga optimistis akhir tahun transaksi kartu kredit perusahaan bisa melonjak 13 hingga 14 persen dibandingkan bulan-bulan biasanya. Perseroan pun meluncurkan berbagai program promo diskon maupun cashback dengan mitra merchant untuk mendukung kebutuhan nasabah.

"Pasti transaksi naik pada akhir tahun sampai dengan tanggal 5-6 Januari. Itu untuk berwisata dalam dan luar negeri termasuk belanja Natal dan Tahun Baru," ujar Jahja.

Direktur PT Bank CIMB Niaga Lani Darmawan juga mengutarakan hal senada. Menurut Lani, penggunaan kartu kredit di akhir tahun bakal banyak untuk tiket transportasi, hotel, kebutuhan sehari-hari, dan restoran. Momentum ini akan dimanfaatkan perseroan untuk mencapai target pertumbuhan baki debet yang ada di kisaran 10 persen dibandingkan tahun lalu.

"Kami perkirakan (transaksi) naik 15 persen," ujarnya.

Adapun per akhir September, pembiayaan kartu kredit perseroan mencapai Rp8,07 triliun atau tumbuh 3,1 persen secara tahunan. (agi/agi)