Dua BUMN Kucurkan Talangan Rp894 M untuk Tol Serang-Panimbang

Agustiyanti, CNN Indonesia | Kamis, 16/11/2017 19:13 WIB
Dua BUMN Kucurkan Talangan Rp894 M untuk Tol Serang-Panimbang BNI dan Bank Mandiri mengucurkan pinjaman sindikasi bagi proyek pengadaan lahan (dana talangan) bagi proyek tol ruang Serang-Panimbang mencapai Rp894 miliar. (ANTARA FOTO/Tommy Saputra)
Jakarta, CNN Indonesia -- Dua bank BUMN, PT Bank Mandiri Tbk dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BNI) mengucurkan pinjaman sindikasi sebesar Rp894 miliar kepada PT Wijaya Karya Serang Penimbang (WSP) guna membiayai proses pengadaan lahan (dana talangan) bagi proyek tol ruang Serang-Panimbang.

Adapun masing-masing bank BUMN memberikan pinjaman dengan porsi yang sama, yakni sebesar Rp477 miliar.

"Kebutuhan dana untuk ruas tol Serang Panimbang berdasarkan n Badan Pengelola Jalan Tol (BPJT) itu yang ditandatangani sebesar Rp 1,34 triliun, Sekarang kita tandatangan sumber pembiayaan melalui sindikasi ini Rp894 miliar." ujar Direktur Utama PT Wika Serang Panimbang Entus Asnawi Mukhsob di Jakarta, Kamis (16/11).


Entus mengaku, pihaknya masih membutuhkan dana tambahan sekitar Rp140 miliar. Kekurangan dana tersebut, rencananya akan ditutup melalui dana dari internal dan bank lainnya.

Hingga saat ini, pihaknya telah melakukan pembayaran pada ruas lahan yang ada di dua desa di Serang menggunakan dana internal. Rencananya, pihaknya juga akan melakukan pembayaran di dua desa lainnya pada minggu depan. Enthus pun berharap persoalan pengadaan lahan ini akan selesai maksimal pada Juni yang akan datang.

"Kalau tidak ada masalah, pembayaran yang tanpa konsinyasi (penitipan ganti rugi di pengadilan) itu selesai bulan Maret 2018. Kalau dengan konsinyasi maksimal Juni 2018." imbuhnya.

Konsinyasi tersebut akan dilakukan karena pihaknya menemukan tanah yang masih bersifat sengketa dan juga tidak ditemukan pemiliknya pada daerah yang akan dibangun proyek ruas tol Serang - Panimbang tersebut.

Lebih lanjut, ia mengungkapkan bahwa pihaknya akan mengucurkan dana sebesar Rp555 miliar dari total keseluruhan dana Rp894 miliar untuk pengadaan tanah hingga akhir tahun ini.

Di sisi lain, Enthus mengaku, total dana yang dibutuhkan untuk pengadaan lahan berpotensi membengkak menjadi sekitar Rp1,9 triliun hingga Rp2,2 triliun. Ia menambahkan bahwa potensi pembengkakan harga tersebut diakibatkan perbedaan penetapan harga yang telah dilakukan pada 2016 lalu melalui apprasial.

"Ini pun nanti kami akan mengamandemen dulu perjanjian dan PPJT (Perjanjian Pengusaha Jalan Tol) maupun jaminannya." tambahnya.

Kendati demikian, ia mengungkapkan bahwa hal tersebut tidak akan berdampak pada kenaikan tarif tol yang nantinya direncakan akan beroperasi 2019 mendatang. Adapun tarif yang telah disepakati oleh BPJT untuk ruas tol Serang - Panimbang tersebut adalah Rp1.000 per kilometer (km)

Bantuan Pemerintah
Enthus menyatakan bahwa proyek pembangunan ruas tol ini merupakan konsorsium dengan pemerintah. Lebih rinci ia menjelaskan bahwa 51 kilometer (km) pertama dari ruas tol tersebut akan dibangun oleh pihak WSP dan 33 kilometer (km) sisanya akan dibangun oleh pemerintah.

"kalau semua dibangun oleh konsorsium, hasil FS-nya (Feasibility Study) tidak masuk, IRRnya (Internal Rate of Return) juga akan rendah. Jadi tidak menarik untuk investasi" ujarnya.

Ia pun memperkirakan, total pendanaan untuk konstruksi yang dibutuhkan oleh WSP untuk membangun 51 kilometer (km) ruas tol tersebut bisa mencapai Rp5,3 triliun. (dit)