REKOMENDASI SAHAM

Peluang Kenaikan Saham TLKM dan ASII Masih Tinggi

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Senin, 20/11/2017 08:51 WIB
Peluang Kenaikan Saham TLKM dan ASII Masih Tinggi Harga saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra Internasional Indonesia Tbk (ASII) belum mencapai target, meski kinerja keuangannya positif. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Pada perdagangan pekan ini, pelaku pasar perlu mencermati beberapa saham dengan kinerja keuangan yang apik, tetapi belum dibarengi dengan pergerakan harga sahamnya. Saham PT Telekomunikasi Indonesia Tbk (TLKM) dan PT Astra Internasional Tbk (ASII) misalnya, bisa menjadi santapan pelaku pasar pada pekan ini.

Analis Recapital Sekuritas Kiswoyo Adi Joe menilai, harga saham kedua emiten ini belum mencapai target meski keuangannya cukup positif. Padahal, keduanya telah merilis laporan keuangan sejak Oktober lalu.

Pada akhir pekan lalu, harga saham Telkom ditutup stagnan di level Rp4.200 per saham. Angka itu merupakan harga saham tertinggi Telkom sejak perusahaan merilis laporan keuangannya pada 26 Oktober lalu.


Harga saham Telkom memang sempat melejit 1,71 persen saat laporan keuangan perseroan dipublikasikan. Namun, harga saham Telkom diramal masih punya peluang naik 7,14 persen dari posisi terakhir.

"Untuk Telkom masih bisa ke arah Rp4.500 per saham," ungkap Kiswoyo kepada CNNIndonesia.com, dikutip Senin (20/11).

Adapun, Telkom meraup laba bersih sebesar Rp17,92 trilun pada kuartal III 2017, naik 21,65 persen dari periode yang sama tahun sebelumnya Rp14,73 triliun.

Pencapaian itu ditopang oleh pendapatan perusahaan yang tumbuh 12,55 persen menjadi Rp97 triliun dari posisi sebelumnya Rp86,18 triliun.

"Jadi laporan keuangan bagus tapi harga saham belum naik tinggi," sambung Kiswoyo.

Sementara itu, harga saham Astra International masih berada di level Rp8.200 per saham pada akhir pekan lalu. Angka itu turun 0,61 persen dari perdagangan sebelumnya.

"Peluang Astra International di Rp9.000 per saham," jelas Kiswoyo.

Dengan demikian, harga saham Astra International masih berpotensi meningkat 9,75 persen sepanjang pekan ini. Perusahaan sendiri sebenarnya telah mengeluarkan laporan keuangan pada akhir bulan Oktober.

Sejak laporan keuangan dikeluarkan, pergerakan harga saham Astra International sebenarnya menunjukan tren kenaikan. Sayangnya, sejak Senin (13/11) harga sahamnya terus turun.

Dari sisi kinerja sendiri, Astra International membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 26 persen dari Rp11,27 triliun menjadi Rp14,2 triliun. Perusahaan juga meraup pendapatan sebesar Rp150,22 triliun atau naik 14 persen dari Rp132,29 triliun.

Saham Semen Terkena Sentimen Sektor Konstruksi

Di sisi lain, Analis Royal Investium Sekuritas, Wijen Ponthus merekomendasikan saham produsen semen karena pembangunan infrastruktur yang terus menggeliat hingga akhir tahun ini.

Beberapa saham emiten semen tersebut, diantaranya PT Semen Indonesia Tbk (SMGR) dan PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP).

"Kalau infrastruktur digenjot pasti berimbas ke penjualan semen, pengambilan semen nggak jauh-jauh dari dua emiten itu," papar Wijen.

Berdasarkan pantauan CNNIndonesia.com, harga saham Semen Indonesia pada akhir pekan lalu turun tipis 0,5 persen menjadi Rp9.900 per saham. Sementara, harga saham terkoreksi satu persen bila diakumulasi sepanjang pekan lalu.

Kemudian, untuk Indocement Tunggal tercatat melemah 2,09 persen pada pekan lalu ke level Rp19.900 per saham. Kendati begitu, harga saham Indocement Tunggal khusus Jumat (17/11) lalu naik 2,05 persen.

Prediksi kenaikan saham semen, lanjut Wijen, sebenarnya sejalan dengan potensi pertumbuhan harga saham dari saham emiten konstruksi.

Selain karena maraknya proyek infrastruktur yang dibangun, pembayaran proyek dari pemerintah yang biasanya dilakukan jelang akhir tahun juga menjadi sentimen positif bagi emiten konstruksi.

Sentimen ini terutama menyasar saham empat emiten konstruksi milik Badan Usaha Milik Negara (BUMN), antara lain PT Waskita Karya Tbk (WSKT), PT Wijaya Karya Tbk (WIKA), PT Pembangunan Perumahan Tbk (PTPP), dan PT Adhi Karya Tbk (ADHI).

"Jadi ada faktor arus kas, akhir tahun kan dana pemerintah cair," jelas Wijen.

Bila dilihat, harga saham emiten konstruksi berakhir di teritori positif pada perdagangan terakhir pekan lalu.

Harga saham Waskita tumbuh 2,79 persen ke level Rp2.210 per saham, Wijaya Karya naik 0,25 persen ke level Rp1.975 per saham, PTPP meningkat 2,18 persen menjadi Rp2.810 per saham, dan Adhi Karya stagnan di level Rp2.240 per saham. (agi/agi)