KAI Hitung Ulang Belanja Modal LRT Jabodebek

Dinda Audriene Muthmainah , CNN Indonesia | Rabu, 22/11/2017 19:19 WIB
Alokasi belanja modal KAI untuk proyek LRT Jabodebek perlu dihitung ulang, seiring bengkaknya kebutuhan biaya pembangunan proyek tersebut sebesar Rp4 triliun. Alokasi belanja modal KAI untuk proyek LRT Jabodebek perlu dihitung ulang, seiring bengkaknya kebutuhan biaya pembangunan proyek tersebut sebesar Rp4 triliun. (ANTARAFOTO/Yulius Satria Wijaya)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT KAI mengaku masih menghitung kebutuhan belanja modal (capital expenditure/capex) yang akan dialokasikan untuk proyek Light Rail Transit (LRT) Jakarta-Bogor-Depok-Bekasi (Jabodebek) pada tahun depan.

Direktur Keuangan KAI Didiek Hartantyo menjelaskan, alokasi capex perlu dikaji kembali sejalan dengan perubahan kebutuhan biaya proyek LRT. Setelah ada kepastian, lanjut Didiek, pihaknya baru akan menentukan kebutuhan pinjaman dana dari berbagai lembaga keuangan, seperti pinjaman sindikasi dari perbankan.

"Capex lagi difinalisasi, semoga minggu ini bisa diselesaikan. nanti ada rapat di Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman minggu ini," ujar Didiek, Rabu (22/11).



Seperti diketahui, sebagai investor KAI butuh ekuitas sebesar Rp7,6 triliun untuk membiayai proyek LRT. Menurut Didiek, dana itu hanya sekitar 25 persen dari total dana yang dibutuhkan untuk membangun proyek tersebut, yakni sebesar Rp30,4 triliun.

Adapun kebutuhan dana untuk membangun proyek tersebut bengkak Rp4 triliun dari sebelumnya Rp27 triliun. Ini lantaran adanya perubahan teknologi sinyal kereta menjadi moving block.

Melalui teknologi tersebut, pemerintah memprediksi pendapatan dari proyek LRT karena jumlah penumpang bisa lebih banyak dari sebelunya yang hanya 260 ribu per hari menjadi 430 ribu per hari.


"Ada beberapa bank pemerintah yang sudah berkomitmen untuk mendanai proyek LRT, jadi itu sindikasi gabungan," sambungnya.

Didiek mengatakan, proses financial close dilakukan pada bulan Desember mendatang. Sementara itu, total kebutuhan ekuitas sebesar Rp7,6 triliun, antara lain akan dipenuhi dari Penyertaan Modal Negara (PMN) tahun 2017 Rp2 triliun, relokasi kereta Trans Sumatera Rp2 triliun, dan PMN tahun depan Rp3,6 triliun.

Rencananya, proyek LRT dikerjakan oleh PT Adhi Karya Tbk (ADHI). Bila sesuai rencana, LRT tahap pertama memiliki panjang 43,3 kilometer (km) dengan 16 stasiun. (agi/agi)