Investasi Proyek LRT Jabodebek Bengkak Rp4 Triliun

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Selasa, 21/11/2017 09:09 WIB
Nilai investasi proyek LRT Jabodebek diperkirakan membengkak Rp4 triliun dari Rp27 trilun menjadi Rp31 triliun. Nilai investasi proyek LRT Jabodebek diperkirakan membengkak Rp4 triliun dari Rp27 trilun menjadi Rp31 triliun. (CNN Indonesia TV)
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Koordinator bidang Kemaritiman memperkirakan, nilai investasi proyek Light Rail Transit (LRT) Jabodebek membengkak Rp4 triliun dari Rp27 triliun menjadi Rp31 triliun. Padahal sebelumnya, tambahan investasi proyek LRT ditaksir hanya sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun saja.

Menteri Koordinator bidang Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan mengatakan, kenaikan tambahan investasi ini disebabkan oleh perubahan teknologi sinyal kereta menjadi moving block. Adapun, moving block adalah sistem di mana sinyal rel kereta diatur melalui komputerisasi.

Tak hanya itu, rencana jumlah stasiun pun akan ditambah. Meski demikian, tambahan investasi ini sangat berguna untuk menambah pendapatan proyek LRT. Jumlah penumpang yang bisa diangkut per harinya nantinya naik menjadi 430 ribu dari sebelumnya 260 ribu penumpang per hari.


“Karena dengan penambahan penumpang, maka revenue juga bertambah. Jadi kami ingin cash flow-nya lebih bagus,” ujar Luhut ditemui di kantornya, Senin malam (20/11).

Ia melanjutkan, perubahan nilai investasi tentu mengubah porsi pendanaan yang sebelumnya telah disusun, khususnya pendanaan dari pembiayaan perbankan. Meski demikian, bank-bank penyalur pembiayaan masih tidak berubah, yakni tiga bank pelat merah yang terdiri dari PT Bank Mandiri (Persero) Tbk, PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk, dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk serta dua bank swasta yaitu PT Bank Central Asia Tbk dan PT Bank CIMB Niaga Tbk.

“Pembiayaan dari perbankan sudah mau commit. Namun kami yg lagi sesuaikan angka-angkanya (penyaluran pembiayaan per bank). Kalau perbankan kan sudah mau ya, seperti CIMB Niaga itu sudah mau (memberi pinjaman) Rp4 triliun, yang lain juga begitu,” paparnya.

Kendati ada perubahan nilai investasi, ia juga berharap pencairan pinjaman (financial closing) bisa beres di pekan kedua Desember. “Masih ada soal-soal teknis yang kami selesaikan, tapi financial closing kira-kira minggu kedua Desember,” ujar Luhut.

Sementara itu, Direktur Utama PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) Emma Sri Martini juga berharap kelengkapan financial closing bisa rampung bulan depan. Untuk itu, seluruh kelengkapan tersebut akan dikerjakan secara serentak.

Adapun, kelengkapan financial closing yang masih harus dipenuhi oleh PT Adhi Karya (Persero) Tbk selaku kontraktor proyek adalah rincian belanja modal, mekanisme subsidi untuk tarif tiket LRT, dan perjanjian konsesi PT Kereta Api Indonesia (Persero).

“Semuanya masih kerja paralel, mudah-mudahan bisa mengejar financial close Desember,” ujarnya.

Pada awalnya, anggaran LRT Jabodebek diperkirkan mencapai Rp27 triliun, yang terbagi atas Rp24 triliun untuk pengadaan prasarana dan Rp3 triliun lainnya untuk sarana. Sebagai kontraktor, PT Adhi Karya (Persero) dan KAI menanggung kebutuhan anggaran sebesar Rp8 triliun dan sisanya, Rp19 triliun akan disediakan oleh sindikasi perbankan.

Lalu, di awal bulan lalu, Adhi Karya dan SMI mengonfirmasi adanya tambahan investasi sebesar Rp1 triliun hingga Rp1,5 triliun untuk menambah dua stasiun yakni Halim Perdanakusumah dan Cikoko dan instalasi moving block.

Proyek LRT Jabodebek ini sedang dikerjakan oleh Adhi Karya dan dioperatori oleh KAI sesuai Peraturan Presiden Nomor 49 Tahun 2017.

LRT tahap pertama rencananya akan melintang sepanjang 43,3 kilometer (km) dan memiliki 16 stasiun di sepanjang jalurnya. Adapun, empat stasiun akan tersedia di sepanjang lintas Cawang-Cibubur, tujuh stasiun akan ada di lintas Cawang-Kuningan Dukuh Atas, dan lima stasiun di jalur Bekasi Timur-Cawang. (agi/agi)
TOPIK TERKAIT
REKOMENDASI
LAINNYA DI DETIKNETWORK