Bulog Gandeng Ritel untuk Distribusi Pangan

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Senin, 27/11/2017 19:20 WIB
Bulog Gandeng Ritel untuk Distribusi Pangan Badan Urusan Logistik (Bulog) bekerjasama dengan Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia dan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia mendistribusikan bahan pangan. (ANTARA FOTO/Dedhez Anggara)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perusahaan Umum (Perum) Badan Urusan Logistik (Bulog) bersama dengan Asosiasi Pedagang Ritel Indonesia (Aprindo) dan Asosiasi Pengelola Pasar Indonesia (Asparindo) bersinergi untuk mendistribusikan bahan pangan pokok ke seluruh Indonesia.

Hal itu diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara ketiga lembaga terkait pendistribusian komoditas pangan pokok dalam rangka stabilisisasi harga pangan.

Kepala Bulog Djarot Kusumajakti mengungkapkan penandatanganan MoU bakal menjadi landasan bagi kerja sama ketiganya dalam mendistribusikan bahan pangan pokok ke masyarakat dengan mutu dan harga sesuai acuan pemerintah.



Dengan demikian, stabilisasi harga bahan pokok bisa tercipta, terutama di saat menjelang dan pada saat perayaan besar di Indonesia seperti lebaran maupun Natal dan Tahun Baru.

"MoU ini diharapkan dapat ditindaklanjuti dengan lebih rinci, dengan perjanjian kerja sama," ujar Djarot di sela acara penandatanganan MoU di kantor Bulog, Senin (27/11).

Djarot mengungkapkan, untuk tahap awal, Bulog akan menyalurkan empat dari sebelas bahan pokok kepada peritel modern maupun pedagang pasar tradisional.

Keempat komoditas tersebut antara lain beras, gula, daging sapi, dan minyak goreng kemasan sederhana. Adapun jumlah yang disalurkan tergantung dari kebutuhan masing-masing mitra.

"Sistemnya ada dua. Ada yang kami jual beli putus dari Bulog, ada yang kami semacam jual titip, sesuai dengan karakteristik perdagangan oleh teman-temen dari peritel modern maupun teman-teman dari pedagang pasar tradisional," ujarnya.

Menurut Djarot, terciptanya stabilisasi harga pangan merupakan tanggung jawab seluruh pihak terkait (stakeholder) baik Bulog, peritel modern, maupun pasar tradisional.

Karenanya, ketiganya mencoba mewujudkannya dengan cara memperluas jaringan distribusi pemasaran kebutuhan pokok, terutama yang disalurkan oleh Bulog, ke seluruh peritel maupun pedagang pasar tradisional di seluruh Indonesia.

Kerja Sama Akses Distribusi

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey menyambut baik langkah ini. Menurut Roy, upaya pemenuhan kebutuhan bahan pokok masih belum sepenuhnya lancar, terutama di wilayah Indonesia Timur. Salah satu kendala utamanya adalah masalah transportasi yang mengganggu distribusi produk oleh distributor.

Saat ini, Bulog bisa menggunakan fasilitas tol laut dan jalur-jalur distribusi utama. Sementara, akses distributor ritel modern terhadap tol laut masih terbatas.

"Dengan kerja sama ini, kami berharap anggota Aprindo lebih pasti dalam mendapatkan stok bahan pokok,"ujar Roy di tempat yang sama.

Di saat bersamaan, Roy juga mengimbau pemerintah membuka jalur tol laut untuk peritel modern. Dengan dibukanya akses tersebut, Roy memperkirakan biaya distribusi produk bisa turun 15 hingga 20 persen.

Bagi pelaku ritel nonanggota Aprindo, Roy mengimbau untuk segera bergabung dengan asosiasinya. Dengan demikian, toko ritel tersebut mendapatkan akses yang sama terhadap produk Bulog seperti anggota Aprindo.

Saat ini, lanjut Roy, beberapa anggotanya di daerah Jawa Timur sebenarnya telah mendapatkan stok kebutuhan bahan pokok dari Bulog. Hal ini bisa terwujud berkat inisiatif stakeholder daerah. Dengan adanya MoU ini, kerja sama ini diharapkan bisa diperluas hingga ke seluruh Indonesia.


Lebih lanjut, ia berharap ruang lingkup kerja sama ini nantinya bisanya diperluas tidak hanya untuk empat komoditas bahan pokok tetapi juga bisa diperluas hingga mencakup 11 kebutuhan pangan pokok yang ditetapkan oleh pemerintah.

Sebagai catatan tujuh kebutuhan pangan pokok lainnya yaitu jagung, kedelai, cabai, bawang, terigu, daging ayam, dan telur.

"Dengan kerja sama ini dengan Bulog ini, kami berharap bisa mengakses tujuh bahan pokok lainnya juga. Kan tahu kalau untuk bahan pokok pada musim-musim tertentu seringkali ada yang menahan, ada kartel, atau ada macam-macam yang tidak menyehatkan perdagangan," ujarnya. (gir/gir)