Pengusaha Ritel Ungkap Masalah Pergeseran Pola Konsumsi

Giras Pasopati, CNN Indonesia | Rabu, 01/11/2017 18:16 WIB
Pengusaha Ritel Ungkap Masalah Pergeseran Pola Konsumsi Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan telah memantau pergeseran pola konsumsi masyarakat yang menyebabkan beberapa gerai ritel gulung tikar. (CNN Indonesia/Hesti Rika)
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) menyatakan telah memantau pergeseran (shifting) pola konsumsi masyarakat yang pada akhirnya menyebabkan beberapa gerai ritel gulung tikar.

Ketua Umum Aprindo Roy Mandey mengatakan, shifting pola konsumsi itu terjadi seiring momentum pendapatan per kapita masyarakat Indonesia yang naik rata-rata menjadi di atas US$3 ribu.

"Jadi mulai 2010 tepatnya. Kemudian naik terus, dan sekarang [pendapatan per kapita] sudah US$3.500-US$3.600. Itu kan menengah ke atas pastinya," ujarnya kepada CNNIndonesia.com, Senin (30/10).



Ia menjelaskan, pergeseran pola konsumsi juga terjadi karena perubahan zaman yang lebih digital dan kemajuan internet. Jadi, ia menilai masyarakat lebih membutuhkan pengalaman (experience) belanja daripada barangnya.

"Itu terlihat dari banyak yang menabung, banyak saving. Karena mereka berpikir saat ada travel fair, new travel destination, atau great sale di negara lain, baru melakukan spending. Goods based consumption berubah menjadi experience based consumption," jelasnya.

Aprindo, kata Roy, pada awalnya belum terlalu mengkhawatirkan pergeseran tersebut. Namun, ia mengaku mulai was-was ketika pada 2012-2013 mulai terlihat pelemahan pertumbuhan ritel.

Pengusaha Ritel Ungkap Masalah Pergeseran Pola KonsumsiKetua Umum Aprindo Roy Mandey saat berkunjung ke kantor CNN Indonesia. (CNN Indonesia/Giras Pasopati)
"Kemudian pada 2014-2015 juga turun tuh di era Jokowi. Apalagi pas APBNP baru ditetapkan pertengahan tahun, jadi penyaluran dana desa terlambat. Di situ mulai turun dan sampai sekarang belum recovery," kata Roy.

Menurutnya, jika anggaran belanja pemerintah tidak direalisasikan sepenuhnya, maka akan berpengaruh bagi konsumsi masyarakat. Alasannya produktivitas masyarakat tidak tersalurkan, akhirnya konsumsi juga terhambat.

Isu pelemahan industri ritel sudah terendus sejak awal tahun ini. Beberapa perusahaan menutup beberapa gerainya yang dinilai tidak memberikan keuntungan terhadap kinerja secara konsolidasian.

Misalnya saja, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF) yang baru menutup dua gerainya di kawasan Blok M dan Manggarai. Kemudian, diikuti penutupan gerai Lotus dan Debenhams oleh PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI).


Kedua manajemen ini kompak beralasan penutupan gerai dilakukan karena gerai tersebut tidak menghasilkan pendapatan sesuai target perusahaan. Dengan kata lain, keputusan itu juga bisa dikatakan sebagai efisiensi perusahaan.

Yang paling besar belum lama ini, PT Modern Internasional Tbk telah menutup semua gerai 7-Eleven di bawah pengelolaannya pada 30 Juni 2017 karena kurangnya sumber daya untuk mendanai operasional tokonya.

Perusahaan menutup sekitar 25 gerai pada 2016, meninggalkan perusahaan dengan 161 toko. Pada 2015, Modern Internasional memiliki lebih dari 185 gerai 7-Eleven.