2018, Emiten Semen Patok Pertumbuhan Volume Jual Konservatif

Dinda Audriene, CNN Indonesia | Kamis, 30/11/2017 15:59 WIB
2018, Emiten Semen Patok Pertumbuhan Volume Jual Konservatif Sejumlah perusahaan produsen semen menyebut persoalan kelebihan pasokan (oversupply) semen di Indonesia masih akan terjadi pada tahun depan.(CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- Emiten berbasis semen mematok pertumbuhan jumlah volume penjualan tahun 2018 sekitar 5 persen. Angka itu sama persis dengan target pertumbuhan penjualan semen secara nasional.

Direktur Utama PT Indocement Tunggal Prakarsa Tbk (INTP), Christian Kartawijaya mengungkapkan, kenaikan penjualan ini tidak terlepas dari potensi pertumbuhan sektor properti tahun depan.

"Properti ujung-ujungnya kan ke semen juga," kata Christian, dikutip Kamis (30/11).



Perusahaan telah mempersiapkan belanja modal (capital expenditure/capex) sebesar Rp1,5 triliun untuk keperluan membangun terminal baru di Palembang dengan kapasitas 3.000 ton per tahun.

"Jadi dengan Asian Games bisa meningkatkan volume penjualan juga," sambung Christian.

Sementara itu, pabrik milik perusahaan di Citereup yang memiliki kapasitas sebesar 4,4 juta ton diklaim sudah siap beroperasi. Dengan begitu, jumlah produksi semen perusahaan pun kian bertambah.


Kendati demikian, persoalan kelebihan pasokan (oversupply) semen di Indonesia masih akan terjadi pada tahun depan. Pasalnya, jumlah pertumbuhan pertumbuhan permintaan tidak sebanding dengan penambahan kapasitas semen yang lebih tinggi.

"Pertumbuhan konsumsi hanya 5 persen, oversupply justru membesar," pungkas Christian.

Sekretaris Perusahaan PT Semen Indonesia Tbk (SMGR), Agung Wiharto melengkapi, kapasitas nasional tahun ini tercatat mencapai 106 juta ton. Namun, konsumsi nasional diprediksi hanya sekitar 66 juta ton hingga 67 juta ton.

2018, Emiten Semen Patok Pertumbuhan Volume Jual Konservatif(ANTARA FOTO/Angga Budhiyanto)

"Ini terdiri dari 17 produsen semen di Indonesia. Artinya ada penjualan dari pabrik lain yang masih rendah," ungkap Agung.

Khusus Semen Indonesia, Agung mengklaim, ada kemungkinan bagi perusahaan tidak mengalami oversupply karena memiliki pangsa pasar sebesar 40 persen di dalam negeri.


"Kalau pertumbuhan penjualan bisa lebih tinggi dari industri berarti pangsa pasar naik, kalau turun ya berarti turun," papar Agung.

Saat ini, perusahaan memiliki kemampuan kapasitas hingga 30 juta ton per tahun. Sementara, penjualan hingga akhir tahun ini ditargetkan mencapai 27 juta ton.

"Sampai Oktober 2017 kalau tidak salah sudah 25 juta ton, nah produksi juga tidak 100 persen sesuai jumlah kemampuan juga, jadi kami tidak oversupply," jelas Agung.


Meski optimistis dengan tingkat penjualannya pada tahun depan, Agung belum dapat menyebutkan proyeksi laba bersih tahun 2018 karena masih proses penggodokan di internal.

Sejauh ini, mayoritas atau di atas 90 persen produksi Semen Indonesia dijual di dalam negeri. Jika ada sisa, maka perusahaan akan mengekspor ke beberapa negara tetangga.

"Ekspor kami kecil, mayoritas dalam negeri. Ekspor seperti ke Sri Lanka, Bangladesh, dan Timor Leste," pungkas Agung. (gir/gir)