Dilansir dari Reuters, Rabu (13/12), harga minyak acuan Brent merosot 2 persen atau US$1,35 menjadi US$63,34 per barel. Hal yang sama juga terjadi pada harga minyak mentah AS West Texas Intermediate (WTI) yang turun US$0,82 atau 1,4 persen menjadi US$56,91 per barel.
Kemudian, selisih antara harga Brent dan WTI sempat melebar hingga US$7, tertinggi sejak dua tahun terakhir, namun menyempit jadi US$6,38. Harga WTI tertinggal dari Brent, dan hal itu telah membantu untuk mendongkrak ekspor AS.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penutupan pipa berkapasitas 460 ribu barel per hari (bph) tersebut mendongkrak harga minyak dunia pada perdagangan Senin dan awal Selasa pekan ini dengan harga Brent sempat menyentuh US$65 per barel untuk pertama kalinya sejak Juni 2015 silam.
Bulan lalu, perkiraan kenaikannya hanya 720 ribu barel menjadi 9,95 juta bph.
"Pasar menghormati apa yang dinyatakan oleh EIA, namun mereka tidak menganggapnya terlalu serius," ujar Analis Price Futures Group Phil Flynn.
Namun, persedian bensin naik 2,3 juta barel, dan stok minyak distilasi naik 1,5 juta barel, lebih tinggi dari perkiraan kenaikan sebelumnya yang ada di kisaran 902 ribu barel.
Analis menanti data yang dirilis oleh EIA pada hari ini, Rabu waktu setempat, untuk menunjukkan penurunan stok minyak mentah sebesar 3,8 juta barel sepanjang pekan lalu. (bir)