Direktur Perencanaan Korporat PLN Syofvi Felienty Roekman menjelaskan, pinjaman tersebut setara dengan 85 persen dari perkiraan total kebutuhan pendanaan PLTA Kumbih III sebesar 100 juta euro atau sekitar Rp15,97 triliun. Adapun jangka waktu pinjaman ditetapkan selama 15 tahun.
“Loan ini merupakan pinjaman langsung tanpa jaminan pemerintah. Ini menarik, karena lembaga pendanaan dari negara-negara Eropa seperti KfW mendukung proyek-proyek dari energi baru terbarukan seperti ini, mulai dari studi kelayakan hingga pendanaan,” ujar Syofvi dalam keterangan resmi, dikutip Senin (18/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Syofvi menjelaskan PLTA Kumbih III yang akan dibangun di Sumatera ini dapat membantu memenuhi kebutuhan pertumbuhan beban di sistem Sumatera bagian Utara. Selain itu, PLTA tersebut juga bisa menurunkan biaya pokok produksi atas penggunaan bahan bakar fosil baik pada saat beban dasar maupun saat beban puncak.
“Dan yang terpenting, menambah porsi energi terbarukan dalam sasaran bauran energi nasional,” ujarnya.
Sementara itu, pihak KfW melalui Senior Project Manager KfW Jens Wirth menyatakan bahwa kerja sama ini penting untuk mendukung PLN dalam percepatan penambahan listrik dari energi terbarukan di Indonesia.
Lihat juga:PLN Janji Tarif Listrik Turun Dua Tahun Lagi |
“Kami berharap pelaksanaan proyeknya dapat segera berjalan cepat sehingga langsung dapat dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” ujar Wirth.
Sebagai informasi, proyek PLTA Kumbih III akan memulai pembangunan konstruksi pada tahun 2019. Dengan masa pembangunan 4 tahun, diperkirakan beroperasi secara komersial di tahun 2023.
PLTA ini memanfaatkan aliran sungai Kumbih yang melintasi dua kota yakni Sidikalang Kabupaten Dairi, Sumatera Utara dan Subulussalam, Aceh tempat akan dibangunnya power house PLTA Kumbih III. (agi)