Savills Indonesia, lembaga riset dan konsultan menilai, millenials lebih menyukai bekerja di kawasan perkantoran pusat kota (CBD) dan terhubung dengan banyak fasilitas, seperti pusat perbelanjaan dan tempat makan.
"Generasi millenials inginnya kerja di urban lokasi, tengah kota, yang aksesnya mudah, cepat, dan dekat dengan pusat makan, pusat perbelanjaan, olahraga," ujar Kepala Departemen Riset dan Konsultasi Savills Indonesia Anton Sitorus, Rabu (20/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Tren ini sekaligus membalikkan tren yang terjadi dalam beberapa tahun belakangan, khususnya pada era 2005 lalu, di mana perusahaan yang sebelumnya berkantor di CBD justru berpindah ke non-CBD karena alasan biaya yang lebih murah. Selain itu, ada pula pengaruh dari pimpinan direksi perusahaan yang didominasi kalangan baby boomers.
Namun demikian, pola pergeseran penghuni perkantoran ini baru masif terjadi sekitar tiga tahun mendatang. Diperkirakan, terjadi berkat pembangunan proyek infrastruktur pemerintah. Misalnya, pembangunan jalur kereta Mass Rapid Transit (MRT) dan kereta ringan Light Rapid Transit (LRT) yang efektif sekitar satu hingga dua tahun ke depan.
Namun, di sisi lain, ia melihat, ecenderungan ini sebenarnya tidak merugikan. Sebab, sejalan dengan arah kebijakan pemerintah ke depan, seperti pembangunan kawasan hunian yang terhubung dengan sistem transportasi (Transit Oriented Development/TOD).
Sementara, tahun ini, data riset Savills Indonesia menyebut bahwa tingkat kekosongan gedung-gedung perkantoran di kawasan non-CBD masih dalam tren penurunan. Sebab, beberapa perusahaan yang semula berpindah dari CBD ke non CBD, kembali berbalik ke kawasan CBD.
Di sisi lain, kondisi perekonomian justru sedang tidak menggairahkan yang membuat banyak perusahaan menahan ekspansi, termasuk untuk menambah luasan perkantoran mereka. Sehingga, pertumbuhan tingkat kekosongan di kawasan non-CBD meningkat.
Lihat juga:Menyoal Kemampuan Milenial Memiliki Rumah |
Secara total, ia menuturkan, jumlah pasokan baru dari perkantoran kawasan non-CBD sebanyak 151 ribu meter persegi. Hal ini membuat total pasokan keseluruhan mencapai 2,7 juta meter persegi. Namun, yang digunakan hanya 79 ribu meter persegi.
Sedangkan untuk kawasan CBD, jumlah pasokan baru sebanyak 515 ribu meter persegi, sehingga total jumlah ketersediaan mencapai 6 juta meter persegi. Namun, yang terisi hanya 85,5 ribu meter persegi.
Dari sisi harga, perkantoran non-CBD menurun harga sewanya sekitar 1,3 persen per bulan. Sedangkan kawasan CBD turun 6,4 persen. "Secara keseluruhan, dua kawasan ini turun harganya karena memang tingkat keterisiannya rendah, sehingga mereka turunkan harganya," terangnya. (bir)