Ketua Dewan Komisioner OJK Wimboh Santoso mengatakan, hal tersebut dikarenakan upaya restrukturisasi kredit bermasalah (nonperforming loan/NPL) industri perbankan. Antara lain, menghapus pemberian kredit kepada debitur yang bermasalah, sehingga tak berdampak pada kualitas kredit.
“Kredit bermasalah perbankan yang naik beberapa waktu lalu mulai direstrukturisasi. Ada juga yang hapus buku dan penghapusannya cukup besar, terutama segmen komersial yang pencapaiannya rendah,” ujarnya, Kamis (21/12).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
“Segmen komersial ini lebih ke single company, bukan corporate yang punya anak usaha. Begitu batuk, kena flu ya sudah. Kalau corporate batuk, yang lain masih bisa beri bantuan,” terang dia.
Alasan lain, kendurnya pertumbuhan kredit tahun ini, terutama kredit sektor tambang yang sangat terpukul. Sehingga, kontribusinya menurun pada kinerja pertumbuhan kredit secara keseluruhan.
Beruntung, upaya restrukturisasi cepat membuahkan hasil. Rasio NPL pada November 2017 tercatat sebesar 2,89 persen.
"Ini trennya semakin turun. Kami harap, pada sisa waktu ini, sektor jasa keuangan bisa melakukan pembiayaan yang lebih tinggi," tutur Wimboh.
Tembus 12 Persen di Tahun Depan
Untuk tahun depan, Wimboh menyatakan, OJK memasang target 10 persen-12 persen. Proyeksi ini sama persis dengan perkiraan bank sentral. Hal ini dikarenakan Wimboh melihat bahwa tahun depan perekonomian akan lebih baik, sejalan dengan prediksi lembaga keuangan internasional.
Lihat juga:Bank Besar Masih Akan Pangkas Bunga Deposito |
Namun, belakangan Gubernur BI Agus Martowardojo melihat, pertumbuhan kredit hanya akan berada di kisaran 8 persen saja. Toh, pada Oktober 2017 pertumbuhannya cuma 8,16 persen.
Bank sentral melihat perbankan dan dunia usaha masih pada tahap konsolidasi dan permintaan dari masyarakat belum meningkat. Meski begitu, untuk tahun depan, bank diprediksi mampu menggenjot pertumbuhan kreditnya hingga ke kisaran 10-12 persen. (bir)