Efek Pilkada, Ekonomi Pulau Jawa Diprediksi Naik 5,75 Persen

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Jumat, 22/12/2017 13:19 WIB
Efek Pilkada, Ekonomi Pulau Jawa Diprediksi Naik 5,75 Persen Pertumbuhan ekonomi sebagian kawasan di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Papua, diprediksi tumbuh pada 2018. (Ilustrasi/ CNN Indonesia/ Hesti Rika).
Jakarta, CNN Indonesia -- Pertumbuhan ekonomi sebagian kawasan di Indonesia, khususnya Pulau Jawa dan Papua, diprediksi tumbuh pada 2018. Hal itu dipicu faktor pemilihan kepala daerah dan kinerja perusahaan tambang yang makin produktif.

Head of Industry and Regional Research Departement PT Bank Mandiri (Persero) Tbk Dendi Ramdani memprediksi, ekonomi Pulau Jawa bisa tumbuh hingga 5,75 persen pada 2018 atau naik dari prediksi pertumbuhan ekonomi tahun ini yang sebear 5,62 persen.

Alasannya, Pulau Jawa akan mendapatkan pengaruh positif paling tinggi dari Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) pada 2018 mendatang. Maklum, sebagian besar dari 171 Pilkada dilakukan di Pulau Jawa.

Dia mengungkapkan pesta demokrasi dalam Pilkada 2018 di sejumlah daerah ini akan menumbuhkan konsumsi pemerintah dan masyarakat di dalam negeri.


"Pulau Jawa akan naik tinggi karena konsumsi efek Pilkada di Jawa, misalnya Jawa Barat dan Jawa Timur," ucap Dendi, dikutip Jumat (22/12).

Sementara itu, Papua diramalkan meningkat menjadi 7,66 persen dari prediksi tahun 2017 sebesar 5,69 persen. Hal ini didorong oleh produksi PT Freeport Indonesia (PTFI) yang diklaim bakal lebih lancar dari tahun lalu.

"Tahun ini kan produksi di Papua sempat berhenti karena berkaitan dengan kontrak dengan pemerintah, sekarang sudah jalan lagi," ucap Dendi.

Pasalnya, pertumbuhan ekonomi sangat bergantung pada kondisi di Timika. Setidaknya, 70 persen pertumbuhan ekonomi di Papua ditopang oleh Timika.

Selanjutnya, Sumatera diprediksi tumbuh tipis hanya menjadi 4,61 persen dari prediksi tahun ini sebesar 4,49 persen. Hal ini disebabkan, harga batu bara diramalkan turun menjadi US$75 per metrik ton.

"Sekarang naik ke US$120 per metrik ton, tahun depan kemungkinan terkoreksi ke harga fundamentalnya," jelas Dendi.

Kenaikan harga batu bara saat ini disebabkan kebutuhan batu bara sejalan dengan musim dingin sehingga dibutuhkan sebagai penghangat ruangan.

Sementara itu, pertumbuhan ekonomi dalam negeri pada tahun depan diproyeksi sebesar 5,3 persen atau dibawah target pemerintah sebesar 5,4 persen. Pertumbuhan ini terutama akan disokong oleh tingkat konsumsi masyarakat.
(lav/bir)