Prima Cakrawala Abadi Tetapkan Harga Saham IPO Rp150

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Senin, 25/12/2017 03:01 WIB
Prima Cakrawala Abadi Tetapkan Harga Saham IPO Rp150 Ilustrasi. (CNN Indonesia/Andry Novelino)
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Prima Cakrawala Abadi menetapkan harga penawaran saham dalam proses penawaran umum saham perdana (Initial Public Offering/IPO) di angka Rp150 per saham. Hal itu tertuang dalam pengumuman yang dipublikasikan oleh PT Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI).

Harga yang ditetapkan tersebut berada di area tengah rentang harga yang dirancang sebelumnya oleh perusahaan, yakni antara Rp145 per saham hingga Rp155 per saham.

Direktur KSEI, Syafruddin menjelaskan, perusahaan melepas sebanyak 466 juta lembar saham ke publik. Masa penawaran umum terjadi pada 22 Desember 2017, kemudian distribusi saham secara elektronik akan dilakukan pada 28 Desember.


Sementara, perusahaan akan mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Indonesia (BEI) pada 29 Desember 2017 mendatang.

Prima Cakrawali Abadi akan menutup pencatatan saham di BEI sepanjang tahun ini. Alhasil, dengan pencatatan tersebut, BEI akan memiliki 37 emiten baru dari target semula yang hanya 35 emiten baru.

Perusahaan yang bergerak dalam bidang industri produk perikanan ini berencana menggunakan 70 persen raihan dana IPO untuk modal kerja perusahaan, di mana 20 persennya digunakan untuk membeli daging dari nelayan dan 80 persennya untuk membeli bahan baku, pembayaran utang usaha, beban produksi, beban pemasaran, dan acara pameran.

Lantas, sisa dana 30 persen dari 100 persen raihan dana IPO bakal dipergunakan sebagai pembiayaan investasi perusahaan, di antaranya membeli alat baru guna meningkatkan efisiensi biaya proses produksi dan renovasi pabrik.

Dari sisi kinerjanya sendiri, total pendapatan perusahaan hingga akhir Agustus 2017 melonjak hingga 318,63 persen menjadi Rp95,49 miliar dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp22,81 miliar.

Namun begitu, hal ini tak cukup untuk mendongkrak laba bersih perusahaan sehingga masih membukukan kerugian sebesar Rp3,55 miliar. Angka itu tercatat turun dari sebelumnya yang mencapai Rp6,46 miliar.

Hingga saat ini, perusahaan memiliki beberapa pabrik yang berada di Semarang, Indramayu, dan Makassar.

Setelah IPO, manajemen berencana membangun fasilitas baru di Rembang, Tuban, Cirebon, Lampung, dan Belitung. (ard)