Harga yang ditetapkan tersebut berada di area tengah rentang harga yang dirancang sebelumnya oleh perusahaan, yakni antara Rp145 per saham hingga Rp155 per saham.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Prima Cakrawali Abadi akan menutup pencatatan saham di BEI sepanjang tahun ini. Alhasil, dengan pencatatan tersebut, BEI akan memiliki 37 emiten baru dari target semula yang hanya 35 emiten baru.
Lantas, sisa dana 30 persen dari 100 persen raihan dana IPO bakal dipergunakan sebagai pembiayaan investasi perusahaan, di antaranya membeli alat baru guna meningkatkan efisiensi biaya proses produksi dan renovasi pabrik.
Dari sisi kinerjanya sendiri, total pendapatan perusahaan hingga akhir Agustus 2017 melonjak hingga 318,63 persen menjadi Rp95,49 miliar dari periode yang sama tahun 2016 sebesar Rp22,81 miliar.
Namun begitu, hal ini tak cukup untuk mendongkrak laba bersih perusahaan sehingga masih membukukan kerugian sebesar Rp3,55 miliar. Angka itu tercatat turun dari sebelumnya yang mencapai Rp6,46 miliar.
Hingga saat ini, perusahaan memiliki beberapa pabrik yang berada di Semarang, Indramayu, dan Makassar.
Setelah IPO, manajemen berencana membangun fasilitas baru di Rembang, Tuban, Cirebon, Lampung, dan Belitung. (ard)