Catatan Akhir Tahun

Tren Bisnis Anak Muda Tahun 2018

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 28/12/2017 17:09 WIB
Tren Bisnis Anak Muda Tahun 2018 Pengamat bisnis menilai usaha yang banyak dilirik oleh anak muda pada tahun depan ialah divisi bisnis yang tak jauh dari teknologi digital. (Ilustrasi/Thinkstock/Grinvalds).
Jakarta, CNN Indonesia -- Tak pernah terbayang di benak Eka Situmorang bahwa kecintaannya pada dunia menulis dan berpetualang ke tempat-tempat baru bisa memberikan penghasilan tambahan.

Berawal dari blog www.ceritaeka.com yang dibuatnya pada 2009 lalu, Eka berbagi informasi dan tips seputar perjalanan, kuliner hotel, hingga maskapai penerbangan. Tak hanya itu, Eka juga menulis tentang gaya hidup, gawai dan otomotif.

Selang setahun, Eka mendapatkan email penawaran kerja sama promosi sebuah situs perjalanan yang ingin menempelkan banner iklan di blognya. Untuk promosi itu ia dibayar Rp1 juta.


Setelah itu, penawaran promosi (endorsement) terus berdatangan. Media yang digunakan Eka pun tak berhenti di blog, tetapi juga melalui akun Twitter, Facebook, dan Instagram @ceritaeka yang diikuti oleh puluhan ribu pengikut.

"Saya kalau suka sesuatu, dibayar atau tidak dibayar, saya tulis. Jadi kadang orang mikir ini endorsement atau bukan, orang tidak tahu," ujar Eka kepada CNNIndonesia.com beberapa waktu lalu.

Eka tak menyebutkan berapa tarif promosi yang dipatoknya. Namun, besaran tarif tersebut tergantung dari jenis promosi yang diinginkan pengiklan.

Menurut Eka, penulis blog perjalanan atau seringkali disebut travel blogger sebenarnya bisa menjadi profesi tetap seseorang asalkan mau konsisten.

Eka berpesan untuk menjadi seorang travel blogger yang mampu menarik pembaca, seseorang harus mampu menulis hal yang informatif. Blogger juga harus menulis apa adanya, dan tidak menyesatkan, sekalipun itu bagian dari endorsement.

Berbeda dengan Eka, Jamal lebih memilih untuk menghibur pengikutnya dengan parodi ustadzah Dedeh Rosidah (Mama Dedeh), Mamah Jejeh, sejak 2015 lalu. Awalnya, pemilik akun youtube Je Artofa dan Instagram @jeartofa ini hanya iseng. Tak disangka, keisengannya menjadi viral hingga akhirnya akun instagramnya kini telah diikuti oleh ratusan ribu pengikut.

Menurut Jamal, kunci kesuksesannya adalah percaya diri dan berani mencoba sesuatu yang unik.

"Meluangkan waktu untuk membuat video sebenarnya sulit karena aku sibuk kuliah apalagi sudah semester akhir. Waktu luang biasanya aku pakai untuk istirahat," ujarnya.

Seiring dengan meningkatnya jumlah pengikut atau followers, tawaran kerja sama promosi pun berdatangan. Tak tanggung-tanggung, Jamal memasang tarif mulai dari Rp 1 juta untuk sekali mengunggah foto instagram.

"Endorsement setiap bulan pasti ada. Endorsement makin banyak waktu aku mulai dipanggil-panggil di TV, kira-kira itu awal 2016," ujarnya.

Pakar teknologi informasi dan media sosial Nukman Luthfie memperkirakan, tahun depan bakal lebih banyak anak muda yang menjadikan platform media sosialnya sebagai lahan bisnis. Mereka yang memiliki pengikut ribuan hingga ratusan ribu di akun media sosial bisa disebut sebagai micro-influencer, seperti Eka dan Jamal.

Terlepas dari tarif, menurut Nukman, micro-influencer memberikan peluang keterikatan dan interaksi yang lebih besar kepada target konsumen dibandingkan media konvensional maupun promosi yang dilakukan artis dengan pengikuti jutaan. Tak ayal, ke depan bakal semakin banyak perusahaan yang meminjam "jasa" micro influencer untuk mempromosikan produknya. Hal ini juga bisa menjadi solusi dari penggunaan fitur penghalang iklan (adblocker) di internet.

"Ke depan, akan makin kencang pendapatan di bisnis ini (micro influencer) karena anggaran dari pemasaran juga naik ke situ," ujarnya.
Sejumlah orang beraktivitas menggunakan gadget untuk bekerja dan mencari penghasilanFoto: Thinkstock/Rawpixel
Sejumlah orang beraktivitas menggunakan gadget untuk bekerja dan mencari penghasilan

Perusahaan Rintisan Menjamur

Seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi, tahun depan perusahaan rintisan (startup) juga diperkirakan semakin menjamur.

Nukman memprediksi perkembangan perusahaan jasa keuangan berbasis teknologi (fintech), terutama di bidang layanan pinjaman (peer-to-peer lending) dan urun dana (crowdfunding), bakal semakin pesat. Hal ini tak lepas dari masih besarnya kebutuhan pembiayaan di Indonesia namun tak bisa dipenuhi oleh sektor perbankan.

"Bank pun sudah melihat bahwa perkembangan teknologi digital tidak boleh diabaikan," ujarnya.

Di lini bisnis e-commerce, startup bidang pertanian bakal semakin diminati karena bisa memangkas mata rantai petani ke konsumen akhir. Dengan demikian, petani bisa mendapatkan harga yang lebih tinggi atas produknya dan masyarakat bisa mendapatkan harga yang lebih murah untuk produk pertanian yang berkualitas.

"Misalnya beli sayur, beli kopi, langsung ke petaninya, tidak ke pihak ketiga," ujar Nukman.

Nukman berpesan, jika generasi muda ingin sukses dalam mendirikan startup, generasi muda harus mampu menciptakan inovasi yang bisa menyelesaikan masalah di lapangan.

"Jika punya solusi, solusi itu sudah digunakan pihak lain atau belum?" jelasnya.

Salah satu pemain startup di sektor pertanian yang lebih dulu masuk ke pasar adalah sayurbox, sebuah platform online yang menyediakan sayuran dan buah organik segar tanpa pestisida dari petani lokal. Melalui aplikasi ini, rantai pasok pertanian menjadi lebih efisien.

Salah satu pendiri Sayurbox, Amanda Susanti, mengungkapkan pihaknya telah bermitra dengan 50 petani di Jawa Barat dan melayani sekitar 8000-an konsumen. Padahal, usahanya baru didirikan pada pertengahan tahun lalu.

"Kami semakin senang jika semakin banyak yang ke sini (startup pertanian) karena orang Indonesia jadi semakin tahu permasalahan di bidang pertanian. Bisnis ini kan juga untuk membuat Indonesia dan petaninya menjadi lebih baik," ujar Amanda.
Guru Besar Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia (UI) Rhenald Kasali memperkirakan, bisnis yang banyak dilirik oleh anak muda pada tahun mendatang memang bisnis yang tak jauh dari teknologi digital.

Menurut Rhenald, tahun depan bakal terjadi krisis digital di mana perusahaan-perusahaan lama dengan merek terkenal ribut karena produknya tak selincah empat tahun lalu. Penyebabnya, perusahaan enggan melakukan transformasi digital secara menyeluruh.

"Ibarat kapal, kapalnya masih kapal layar yang diberi mesin saja. Sementara, badan kapal dan cara kerjanya masih cara kapal layar," ujarnya.

Konsumen zaman "now" menginginkan keterikatan, kecepatan dalam pengantaran, dan biaya rendah. Kebutuhan itulah yang bakal diisi oleh generasi muda yang tidak pernah punya "kapal" tetapi bisa membuat "kapal baru" dengan dimensi-dimensi yang lebih solid.

Misalnya, di bidang periklanan, perusahaan telah menjadikan media sosial sebagai media promosi. Kini, pemasangan iklan tidak hanya melalui media konvesional seperti koran, televisi, dan radio.

Belum lagi perkembangan startup yang berhasil membuat hampir setiap bisnis berbasis daring mulai dari sektor keuangan, asuransi, kuliner, hingga ritel.

"Lihat kuliner yang bekerja sama dengan GoFood, lihat sektor travel dan keuangan, crowdfunding kitabisa.com, asuransi di mana 75 persen di dunia sudah online, dan pelayanan kesehatan skala rumah toko yang dekat dengan pemukiman," ujarnya.
(lav/bir)