Jokowi Siapkan Banyak Jurus Biayai Infrastruktur

Lavinda, CNN Indonesia | Sabtu, 30/12/2017 12:40 WIB
Jokowi Siapkan Banyak Jurus Biayai Infrastruktur Menurut Jokowi, apabila pembiayaan infrastruktur hanya mengandalkan APBN, tidak akan cukup mendanai kebutuhan investasi 245 proyek strategis nasional. (CNN Indonesia/Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Presiden Joko Widodo mengaku akan terus mempraktikkan jurus-jurus inovatif untuk memperoleh pendanaan bagi pembangunan infrastruktur strategis nasional di tahun depan.

Jokowi, sapaan akrab Joko Widodo, menegaskan tak ingin hanya mengandalkan anggaran pendapatan dan belanja negara (APBN) untuk mendanai proyek infrastruktur. Toh, tidak akan mencukupi kebutuhan investasi 245 proyek strategis nasional dengan investasi mencapai Rp4.417 triliun tersebut.

"Jelasnya tak mau rutinitas, dan mengandalkan APBN terus, harus ada inovasi-inovasi untuk pendanaan infrastruktur. Sudah ada Komodo Bonds, nanti terbaru Limited Conseccion Scheme (LCS). Jurusnya akan ada banyak," ujarnya, Jumat (29/12).


Seperti diketahui, pemerintah melalui Badan Usaha Milik Negara (BUMN) telah menerbitkan sejumlah instrumen pendanaan untuk membiayai proyek-proyek infrastruktur. 
Beberapa di antaranya ialah, komodo bonds atau obligasi rupiah yang ditawarkan ke pasar global, dan sekuritisasi aset, termasuk efek beragun aset (EBA).

Terbaru, pemerintah akan menelurkan aturan terkait LCS sebagai alat untuk mendanai pembangunan infrastruktur.

Dalam skema ini, investor swasta harus membayar uang dalam jumlah besar (upfront cash) di awal kerja sama sebagai pendapatan diterima di mula bagi BUMN. Nantinya, BUMN harus rela berbagi pengelolaan dengan investor swasta tersebut.

"Banyak orang ragu, nanti pendanaan infrastruktur akan seperti apa? Peluang untuk mendapatkan dana itu banyak sekali karena kepercayaan yang diberikan kepada kita baik sekali," katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Jokowi juga mengaku tak khawatir dengan sentimen negatif kebijakan luar negeri yang diperkirakan mengganggu stabilitas ekonomi domestik.
"(Faktor eksternal yang menantang) Banyak, tidak bisa disampaikan satu persatu, baik masalah politik, harga minyak, tapi tentu optimis," ungkapnya.

Optimisme mantan gubernur ,DKI Jakarta itu ditopang fundamental makro ekonomi nasional yang membaik. Beberapa di antaranya, pertumbuhan ekonomi sepanjang 2017 kemungkinan berada di atas 5 persen, tingkat inflasi yang terjaga di bawah 4 persen, dan tabungan masyarakat yang melimpah di perbankan.

Hal terkini, Indeks harga saham gabungan (IHSG) bahkan melejit hingga 20,47 persen dari 5.275 pada akhir 2016 menjadi 6.355 saat penutupan perdagangan tahun ini.
Kendati demikian, Jokowi mengaku, pemerintah masih perlu memperbaiki banyak hal, dan mengambil banyak peluang demi mendongkrak ekonomi nasional. (bir)