Namun, hasil lelang dini proyek tersebut masih lebih rendah jika dibandingkan dengan capaian awal tahun lalu. Pada awal tahun lalu, pemerintah sukses melelang sekitar 5.172 paket lebih awal dari total 12 ribu paket senilai Rp33,02 triliun.
Direktur Jenderal Bina Konstruksi Kementerian PUPR, Syarif Burhanuddin mengatakan, rendahnya jumlah proyek yang berhasil dilelang lebih awal lantaran perubahan tata kelola pengadaan barang/jasa di Kementerian PUPR.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Perubahan kelembagaan ULP berupa pemberian wewenang bagi Kepala ULP untuk membentuk tim peneliti. Ini dimaksudkan guna membantu mengawasi seluruh tahapan proses pemilihan atau seleksi di ULP dan melaporkan apabila ada penyimpangan dana atau indikasi penyimpangan kepada Kepala ULP.
“Diharapkan dengan perubahan ini, proses pengadaan barang/jasa di Kementerian PUPR akan lebih berkualitas untuk mendukung percepatan pembangunan infrastruktur", imbuhnya.
Meski begitu, Syarif meyakini, seluruh proyek yang telah direncanakan itu tetap bisa berjalan sesuai dengan target, meski belum ditemukan pemenang tendernya. Sebab, pemerintah masih punya waktu untuk melakukan lelang tersebut. "Diharapkan, pada akhir tahun tercapai target yang diinginkan," terang dia.
Lalu, Ditjen Bina Marga sebanyak 932 paket senilai Rp9,04 triliun dengan persentase mencapai 29 persen dari target proyek lelang. Kemudian, Ditjen Cipta Karya 279 paket senilai Rp1,14 triliun atau sekitar 19 persen dari target.
Selanjutnya, Ditjen Penyediaan Perumahan sebanyak sembilan paket senilai Rp26 miliar atau satu persen dari target dan Badan Pengembangan Infrastruktur Wilayah (BPIW) sekitar 12 paket senilai Rp9,3 miliar atau 37 persen.
Terakhir, Balitbang melelang sembilan proyek senilai Rp9,9 miliar atau sudah 6 persen dari target dan Sekretariat Jenderal melelang 12 paket senilai Rp59 miliar atau 97 persen dari target. (bir)