Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan, saat ini, Inpex Corporation selaku operator Blok Masela sedang merampungkan kajian desain awal terkait lokasi kilang di darat (onshore) dan fasilitas produksi terapung (FSPO).
Tahap desain awal diperkirakan rampung pada pertengahan tahun ini. Adapun, hasilnya akan menjadi bahan penyusunan rencana pengembangan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Amien mencontohkan, lokasi kilang yang akan dipakai Inpex di Maluku Tenggara Barat ternyata telah dialokasikan untuk perkebunan tebu milik suatu perusahaan di Jakarta.
Lebih lanjut ia menjelaskan, berdasarkan jadwal terakhir, Blok Masela baru akan berproduksi pada 2027 mendatang atau mundur dari perkiraan sebelumnya 2024.
"Kalau PoD selesai, nanti Inpex akan fokus ke tahap FEED (desain teknis akhir/ Front End Engineering Design). Setelah FEED baru konstruksi," tutur Amien.
Rencana pengembangan pertama blok Masela ditandatangani pemerintah pada tahun 2010 lalu. Kala itu, Inpex memiliki hak partisipasi sebesar 65 persen. Sedangkan, sisanya dikempit oleh mitranya, Shell Upstream Overseas Services Ltd.
Kemudian, pada 2014 lalu, Inpex bersama Shell merevisi rencana pengembangan setelah ditemukannya cadangan baru gas di Lapangan Abadi, Masela dari 6,97 triliun kaki kubik (TCF) ke level 10,73 TCF.
Di dalam revisi tersebut, kedua investor sepakat akan meningkatkan kapasitas fasilitas LNG dari 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA dengan skema di laut (offshore).
Di awal tahun lalu, Presiden Joko Widodo meminta pembangunan kilang LNG Masela dilakukan dalam skema onshore. Konsekuensinya, Inpex harus mengulang kembali proses kajian pengembangan LNG dengan skema baru. (bir)