Pengembangan Blok Masela Dibidik Rampung Akhir Tahun Ini

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Sabtu, 06/01/2018 17:49 WIB
Pengembangan Blok Masela Dibidik Rampung Akhir Tahun Ini SKK Migas menyebut, Inpex Corporation selaku operator Blok Masela sedang merampungkan kajian desain awal lokasi kilang di darat dan fasilitas produksi terapung. (Ilustrasi/www.skkmigas.go.id).
Jakarta, CNN Indonesia -- Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) membidik proposal rencana pengembangan investasi Blok Masela rampung pada akhir tahun ini.

Kepala SKK Migas Amien Sunaryadi mengungkapkan, saat ini, Inpex Corporation selaku operator Blok Masela sedang merampungkan kajian desain awal terkait lokasi kilang di darat (onshore) dan fasilitas produksi terapung (FSPO).

Tahap desain awal diperkirakan rampung pada pertengahan tahun ini. Adapun, hasilnya akan menjadi bahan penyusunan rencana pengembangan.


"Makin mundur waktunya (penyelesaian rencana pengembangan), potensi gangguan dan kesulitan bertambah," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Jumaat (5/1).

Amien mencontohkan, lokasi kilang yang akan dipakai Inpex di Maluku Tenggara Barat ternyata telah dialokasikan untuk perkebunan tebu milik suatu perusahaan di Jakarta.

"Kami sedang pelajari. Bupati (MTB) sudah mengatakan walau sudah dialokasikan untuk kebun tebu, kalau diperlukan Inpex, akan dilepas," kata Amien.

Rencananya, kapasitas produksi kilang nantinya mencapai 150 juta kaki kubik per hari (mmscfd) gas pipa dan 9,5 juta ton per tahun (MTPA) gas alam cair (LNG).

Lebih lanjut ia menjelaskan, berdasarkan jadwal terakhir, Blok Masela baru akan berproduksi pada 2027 mendatang atau mundur dari perkiraan sebelumnya 2024.

"Kalau PoD selesai, nanti Inpex akan fokus ke tahap FEED (desain teknis akhir/ Front End Engineering Design). Setelah FEED baru konstruksi," tutur Amien.

Sebagai informasi, Inpex mulai mengelola Lapangan Gas Abadi Masela sejak tahun 1998 silam usai ditandatangani kontrak bagi hasil produksi (Production Sharing Contract/PSC) dengan jangka waktu 30 tahun.

Rencana pengembangan pertama blok Masela ditandatangani pemerintah pada tahun 2010 lalu. Kala itu, Inpex memiliki hak partisipasi sebesar 65 persen. Sedangkan, sisanya dikempit oleh mitranya, Shell Upstream Overseas Services Ltd.

Kemudian, pada 2014 lalu, Inpex bersama Shell merevisi rencana pengembangan setelah ditemukannya cadangan baru gas di Lapangan Abadi, Masela dari 6,97 triliun kaki kubik (TCF) ke level 10,73 TCF.

Di dalam revisi tersebut, kedua investor sepakat akan meningkatkan kapasitas fasilitas LNG dari 2,5 MTPA menjadi 7,5 MTPA dengan skema di laut (offshore).

Di awal tahun lalu, Presiden Joko Widodo meminta pembangunan kilang LNG Masela dilakukan dalam skema onshore. Konsekuensinya, Inpex harus mengulang kembali proses kajian pengembangan LNG dengan skema baru. (bir)