Direktur Utama Asuransi Jiwasraya Hendrisman Rahim menjelaskan, pertumbuhan laba tersebut ditopang pendapatan premi yang naik sekitar 21 persen dari Rp18 triliun pada 2016 menjadi Rp21,8 triliun.
"Perbaikan kinerja tahun 2017 dikarenakan komitmen perusahaan untuk menjadi yang terbaik di industri asuransi jiwa, khususnya asuransi jiwa lokal," papar Hendrisman, Senin (8/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Lihat juga:Menggali Cuan Lewat Fintech Pinjam-Meminjam |
Adapun dari sisi produknya, produk konvensional masih mendomonasi pendapatan premi. Pasalnya, produk unitlink hanya berkontribusi kurang dari tiga persen.
Hendrisman juga mencatat, hasil investasi perusahaan pada tahun lalu melonjak 21,09 persen dari Rp3,18 triliun pada 2016 menjadi Rp3,86 triliun. Hasil investasi tersebut berasal dari jumlah dana yang diinvestasikan sebesar Rp41,74 triliun.
Investasi tersebut ditempatkan di beberapa instrumen, seperti saham, reksa dana, dan Surat Berharga Negara (SBN). Namun, sebagian besar dana investasi atau sebesar 40 persen dimasukan dalam instrumen reksa dana.
"Karena reksa dana masih lebih stabil, tahun ini strategi masih sama lebih banyak di reksa dana," tutur Hendrisman.
Dari sisi jumlah aset sendiri, Hendrisman menjabarkan, perusahaan mencatat kenaikan 16,67 persen menjadi Rp45,07 triliun dari posisi akhir tahun 2016 Rp38,6 triliun.
Meski secara keseluruhan kinerja Asuransi Jiwasraya menanjak, tetapi Hendrisman mengklaim perusahaan belum bisa dikatakan sepenuhnya sudah sehat. Seperti diketahui, Asuransi Jiwasraya pernah terlilir utang hingga Rp6,7 triliun.
"Tapi belum sehat saja laba sudah Rp2 triliun, jadi logikanya kalau sehat Rp5 triliun," pungkas Hendrisman. (agi)