Kuartal III, Premi Asuransi Umum Tumbuh Landai 2,8 Persen

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Kamis, 30/11/2017 17:51 WIB
Kuartal III, Premi Asuransi Umum Tumbuh Landai 2,8 Persen Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) optimistis asuransi umum bisa tumbuh ke level 5 persen sesuai dengan target akhir 2017. (CNN Indonesia/Elisa Valenta Sari).
Jakarta, CNN Indonesia -- Asosiasi Asuransi Umum Indonesia (AAUI) mencatat jumlah premi asuransi umum tumbuh 2,8 persen secara tahunan (year on yea​​r/yoy) dari Rp43,03 triliun pada kuartal III 2016 menjadi Rp44,24 triliun pada periode yang sama tahun ini.

Wakil Ketua sekaligus Ketua Bidang Statistik, Riset dan Analisis, serta Teknologi Informasi dan Aktuari AAUI Trinita Situmeang mengatakan, pertumbuhan ini masih sejalan dengan pertumbuhan ekonomi secara makro yang sebesar 5,06 persen pada kuartal III 2017.

“Begitu juga dengan pertumbuhan sektoral jasa keuangan dan asuransi yang sebesar 6,44 persen pada kuartal III 2017 lalu,” ujar Trinita dalam konferensi pers di kantor AAUI, Kamis (30/11).



Kendati secara keseluruhan pertumbuhan asuransi umum baru mencapai 2,8 persen, namun AAUI melihat peluang asuransi tumbuh di angka 5 persen sesuai dengan target asosiasi masih terbuka.

"Karena memang biasanya asuransi meningkat pada akhir tahun, sehingga kami melihat masih bisa sampai 5 persen pada akhir tahun ini secara satu tahun penuh," pungkasnya.

Secara sektoral, pertumbuhan premi tertinggi terjadi pada jenis asuransi energi darat sebesar 56,8 persen menjadi Rp168,8 miliar. Sedangkan asuransi aneka 18,5 persen menjadi Rp1,89 triliun, dan asuransi rekayasa 13,2 persen menjadi Rp1,6 triliun.

Total premi terbesar disumbang oleh asuransi harta benda yang mencapai Rp13,03 triliun dengan pertumbuhan 4 persen, dan asuransi kendaraan bermotor yang mencapai Rp12,45 triliun atau naik 11,6 persen.


Trinita bilang, tingginya jumlah premi yang disumbang oleh asuransi kendaraan bermotor karena adanya kenaikan penjualan kendaraan roda dua dan empat.

Tercatat, penjualan kendaraan roda dua meningkat dari 1,38 juta unit pada kuartal III 2016 menjadi 1,63 juta pada kuartal III 2017. Lalu, penjualan kendaraan roda empat juga meningkat dari 250,71 ribu unit menjadi 269,01 ribu unit.

Begitu pula dengan harta benda, jumlah premi jenis asuransi ini meningkat karena adanya peningkatan pasokan properti komersial sekitar 1,39 persen dan residensial 1,25 persen. Selain itu, pertumbuhan penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) juga naik menjadi 10,5 persen pada kuartal lalu.

"Misalnya, didorong dengan penambahan segmen ritel seperti pembangunan AEON mall, Apartemen Titanum Square, Tunjungan Plaza 6, dan Plaza Renon Bali," katanya.

Sementara itu, sektor asuransi satelit, pesawat udara, dan penjaminan melambat. Terbukti, asuransi satelit sekitar minus 89,5 persen dari Rp79,5 triliun menjadi Rp8,4 miliar pada kuartal III 2017. Lalu, asuransi pesawat udara minus 44,1 persen dari Rp960 miliar menjadi Rp536,8 miliar dan asuransi penjaminan minus 34,6 persen dari Rp1,39 triliun menjadi Rp909,6 miliar.

"Khususnya untuk satelit, ini jelas karena tidak ada lagi penutupan satelit baru dalam beberapa waktu (pada kuartal III 2017), di mana pada periode yang sama (pada 2016) ada dua satelit yang dicover asuransinya," jelasnya.


Secara pangsa pasar, asuransi umum masih didominasi oleh jenis asuransi harta benda sebesar 29,5 persen dan asuransi kendaraan bermotor 28,2 persen. Selebihnya, pangsa asuransi pengangkutan laut sebesar 5,1 persen, asuransi kesehatan 7,5 persen, dan kecelakaan 2,3 persen.

Sementara, klaim asuransi umum minus 2,5 persen (yoy) lantaran adanya penurunan pembayaran klaim dari Rp20,26 triliun pada kuartal III 2016 menjadi Rp19,75 triliun pada kuartal III 2017.

Berdasarkan jenisnya, asuransi yang mengalami pertumbuhan jumlah klaim tertinggi yaitu, energi darat sekitar 588,5 persen dari Rp0,2 miliar menjadi Rp117,9 miliar, rangka kapal sekitar 30,2 persen menjadi Rp930 miliar, dan aneka 17,4 persen menjadi Rp684,6 miliar.

Sedangkan yang pertumbuhan klaimnya merosot yaitu, asuransi rekayasa minus 32,8 persen menjadi Rp740 miliar, energi offshore minus 23,4 persen menjadi Rp1,03 triliun, dan penjaminan minus 12,1 persen menjadi Rp213,9 miliar.

Khusus untuk energi offshore, klaimnya menurun lantaran berkurangnya pendaftaran asuransi pada aset offshore. Adapun hal ini dipengaruhi oleh menurunnya investasi baru pada aset offshore di dalam negeri.

"Asuransi offshore turun 16,8 persen, ini sejalan dengan berkurangnya investasi pada ekspolorasi migas di Indonesia karena belum pulihnya harga minyak dunia," terangnya.

Menurutnya, eksplorasi migas di Indonesia diperkirakan hanya terealisasi sekitar 32 persen atau 40 titik pengeboran dari total 138 titik pengeboran yang direncanakan akan dieksplorasi.

Di sisi lain, rasio klaim juga menurun dari 47,1 persen pada kuartal III 2016 menjadi 44,6 persen pada kuartal III 2017. Adapun penurunan tertinggi terjadi pada jenis asuransi rekayasa dari 77,7 persen menjadi 46,1 persen saja. Diikuti, energi offshore dari 99 persen menjadi 91,1 persen dan kendaraan bermotor dari 49 persen menjadi 44,4 persen.

Namun, rasio beberapa jenis asuransi justru meningkat, misalnya energi darat dari 0,2 persen menjadi 69,9 persen, pesawat udara dari 34,1 persen menjadi 59,4 persen, dan rangka kapal dari 61,4 persen menjadi 80,1 persen.

(agi)