Laba Bank Besar Menggelembung, Bank Kecil Makin Ciut

Agustiyanti, CNN Indonesia | Selasa, 21/11/2017 13:07 WIB
Laba Bank Besar Menggelembung, Bank Kecil Makin Ciut Hingga kuartal III 2017, laba bank-bank besar tercatat tumbuh signifikan, sedangkan laba bank-bank kecil justru mencatatkan penurunan. (CNNIndonesia/Adhi Wicaksono)
Jakarta, CNN Indonesia -- Perbankan secara industri boleh jadi membukukan pertumbuhan laba yang kinclong mencapai 16,5 persen hingga akhir kuartal ketiga. Pertumbuhan laba tersebut dipicu oleh mengkilapnya laba bank-bank besar, sedangkan laba bank-bank kecil justru terperosok atau turun.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), pertumbuhan laba terutama terjadi pada kelompok Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) 4 atau bank dengan memiliki modal inti Rp30 triliun ke atas yang mencapai 20,62 persen (yoy) menjadi Rp63,09 triliun. Disusul oleh kelompok BUKU 3 atau bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga Rp30 triliun yang mencatatkan pertumbuhan 16,86 persen (yoy) menjadi Rp27,1 triliun.

Sementara itu, laba kelompok bank yang lebih kecil, yakni BUKU 2 atau bank dengan modal inti Rp1 triliun hingga Rp5 triliun dan BUKU 1 atau bank dengan modal inti di bawah Rp1 triliun menurun cukup signifikan. Laba bank kelompok BUKU 2 turun 13,28 persen (yoy) menjadi Rp7,71 triliun, sedangkan BUKU 1 turun 20,72 persen (yoy) menjadi Rp616 miliar.


Penurunan laba pada kelompok bank kecil antara lain didorong oleh penurunan penyaluran kredit. Bank pada kelompok BUKU I bahkan mengalami penurunan penyaluran kredit hingga 36,4 persen menjadi Rp40,85 triliun. Sedangkan bank kelompok BUKU 2, penyaluran kreditnya turun 9,26 persen menjadi Rp508,74 triliun.

Di sisi lain, pertumbuhan kredit signifikan terjadi pada kelompok BUKU 4 yang mencapai 19,8 persen menjadi Rp2,27 triliun. Adapun kelompok BUKU 3 juga mengalami pertumbuhan tetapi hanya sebesar 1,17 persen menjadi Rp1.541,5 triliun.

Ekonom LPS Doddy Ariefianto menjelaskan, tertekannya kinerja bank kecil disebabkan oleh ketidakmampuan bank kelompok tersebut dalam menurunkan bunga dana. Terlebih, mayoritas dananya berasal dari deposito yang merupakan dana mahal.

Hal ini berbeda dengan bank besar yang lebih leluasa dalam menyesuaikan penurunan bunga acuan BI terhadap bunga depositonya. Alhasil, bank besar memiliki kemampuan memangkas beban dana, yang tidak dimiliki bank kecil.

"Suku bunga kredit (bank kecil) menjadi jauh lebih mahal dibanding bank besar. Dalam situasi ekonomi yang masih belum optimal mungkin manajemen bank kecil memilih konservatif dan tidak memacu kredit," ujar Doddy kepada CNNIndonesia.com, Selasa (21/11).

Direktur Utama PT Bank Ina Perdana Tbk Edy Kuntardjo mengaku kinerja bank Ina secara umum memang mengalami penurunan. Per September 2017, laba bank Ina tercatat turun 46 persen (yoy) menjadi Rp8,08 miliar, sementara itu, kredit turun dari Rp1,43 triliun menjadi Rp1,32 triliun.

"Penyebab utamanya adalah pertumbuhan kredit yang stagnan sesuai kondisi perbankan nasional dan NPL yang meningkat, sehingga bank harus bentuk pencadangan dan menggerus laba," terang dia.

Di sisi lain, Direktur Utama Bank Mandiri Kartika Wirjoatmodjo mengungkapkan, kenaikan laba bersih perseroan pada kuartal III lalu ditopang oleh kinerja kredit perseroan yang bertumbuh 9,8 persen menjadi Rp686,15 triliun pada akhir September 2017.

Selain itu, kualitas kredit juga membaik. Tercatat, rasio kredit bermasalah (Nonperforming Loan/NPL) gross sebesar 3,75 persen. Sebelumnya, NPL perseroan mencapai 3,81. Sedangkan NPL net sebesar 1,04 persen, turut membaik dari semula 1,27 persen secara tahunan. (agi/agi)