Ketua KPPU M Syarkawi Rauf mengungkapkan, selama ini, harga dan stok beras bergantung pada kondisi PIBC.
"Saya kira, kenapa Indonesia ini yang luas wilayahnya sangat besar hanya bergantung pada referensi harga dan pasokan beras di PIBC," ujarnya di Kantor KPPU, Senin (15/1).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selanjutnya, di Tokyo pun memiliki pasar grosir yang besar untuk komoditas pangan strategisnya. Sementara, di Indonesia yang wilayahnya jauh lebih luas hanya mengandalkan PIBC untuk referensi harga beras.
Lebih lanjut ia menyarankan, saat ini, Indonesia perlu memiliki referensi harga beras yang baru melalui pasar induk lain, tidak hanya di Cipinang.
Ia berharap, nantinya setiap daerah memiliki pasar induk yang bisa menjadi barometer harga dan ketersedian beras. Sehingga, tiap daerah memiliki referensi harga dan ketersediaan stok sendiri tidak bergantung pada PIBC.
Di sisi lain, KPPU juga berharap ke depannya, Badan Pusat Statistik (BPS) segera menerbitkan data yang lebih kredibel sehingga dapat menjadi rujukan terkait data produksi beras.
"BPS menyebutkan mudah-mudahan bulan Agustus itu akan muncul data produksi menggunakan metode dan estimasi yang lebih baik," terang Syarkawi. (bir)