Pertumbuhan Aset BUMN Singapura Salip Indonesia

Christine Novita Nababan, CNN Indonesia | Kamis, 18/01/2018 07:19 WIB
Pertumbuhan Aset BUMN Singapura Salip Indonesia Pertumbuhan aset BUMN Singapura tembus 128,99 persen pada 2012-2016. Sementara, aset BUMN RI cuma sebesar 42,3 persen. (CNN Indonesia/Safir Makki).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga Manajemen FEB Universitas Indonesia (LM FEB UI) melansir pertumbuhan aset Badan Usaha Milik Negara (BUMN) Singapura melampaui pertumbuhan aset BUMN Indonesia. Pada periode 2012-2016, masing-masing perusahaan pelat merah Singapura dan Indonesia mencatat pertumbuhan sebesar 128,99 persen dan 42,3 persen.

Rasio aset Temasek, holding BUMN Singapura, terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) negaranya pada 2012 lalu tercatat 93,87 persen atau sebesar 361,49 juta dolar Singapura. Angka ini tumbuh berlipat-lipat jadi 410,27 juta dolar Singapura pada 2016.

Hal serupa juga terjadi pada Khazanah, holding BUMN Malaysia, yang membukukan perkembangan rasio aset terhadap PDB negaranya. Yaitu, dari 971,25 miliar ringgit Malaysia pada 2012 menjadi sebesar 1.230 miliar ringgit Malaysia.


Sementara, Direktur Pelaksana LM FEB UI Toto Pranoto mengungkapkan, aset BUMN 'merah putih' tetap berada di kisaran 42,3 persen. Bahkan, trennya terus turun sejak 2013 silam. Besaran aset BUMN RI terhadap PDB 2016 hanya senilai Rp12.407 triliun.

“Namun, kemampuan BUMN Indonesia yang relatif baik di 2017 diwakili oleh 20 BUMN yang sudah go public di pasar modal (melakukan penawaran saham perdana). Terlihat dari rasio Return on Asset (RoA) BUMN Indonesia yang lebih tinggi daripada Khazanah, namun masih dibawah Temasek,” ujarnya, mengutip Antara, Rabu (17/1).

Makanya, Toto meyakini, kebijakan pembentukan holding BUMN akan membawa dampak positif bagi perusahaan. Tidak cuma itu, bahkan mampu menggulirkan pertumbuhan ekonomi melalui penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan bisnis swasta, serta meningkatkan posisi tawar entitas bisnis Indonesia di dunia international.

Pengelolaan BUMN secara sektoral, ia melanjutkan, memacu kondisi kinerja yang cukup menggembirakan, yaitu pada BUMN perbankan, BUMN migas, BUMN telekomunikasi, dan BUMN pengelola bandar udara.

Pengelolaan BUMN dengan skema holding atau parsial ini pun memberikan dampak besaran kontribusi yang cukup berbeda terhadap PDB.

“Melalui holding BUMN dapat lebih gigantis (meraksasa) dari sisi aset. Karena, Indonesia memiliki pasar yang besar yang tidak dimiliki negara tetangga dan gencarnya pembangunan ke berbagai daerah,” imbuh Toto. (Antara/bir)