Hasilnya, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) BNI dapat ditekan dari 2,3 persen pada akhir tahun lalu menjadi 3 persen di tahun ini.
Direktur Utama BNI Achmad Baiquni mengatakan, NPL yang lebih rendah berhasil diperoleh perseroan lantaran BNI gencar melakukan upaya restrukturisasi kredit. Upaya tersebut, salah satunya dilakukan dengan menghapus buku (write off) kredit kepada debitur yang dilihat tak lagi memiliki harapan. Tahun lalu, totalnya mencapai Rp8 triliun.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Salah satu debitur yang dihapus buku adalah PT Trikomsel Oke Tbk, perusahaan yang menyediakan produk dan layanan telekomunikasi seluler.
"Salah satunya yang kami write off ya itu (Trikomsel)," jelas dia.
Baiquni bilang, hapus buku kredit perseroan ini terjadi lantaran upaya restrukturisasi secara internal tak berhasil dilakukan. Selain itu, restrukturisasi yang selanjutnya diteruskan pada Penundaan Kewajiban Pembayaran Utang (PKPU) justru kurang menguntungkan bagi pihak perbankan. (agi)