Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Angin Siap Beroperasi 2018

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 26/01/2018 06:17 WIB
Tiga Pembangkit Listrik Tenaga Angin Siap Beroperasi 2018 Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga Bayu Sidrap dengan kapasitas kontrak 70 MegaWatt (MW) akan beroperasi awal 2018. (REUTERS/Yves Herman).
Jakarta, CNN Indonesia -- Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) menyatakan Pembangkit Listrik Tenaga (PLT) Bayu Sidrap dengan kapasitas kontrak 70 MegaWatt (MW) akan segera beroperasi awal tahun 2018.

Pembangkit yang berada di area perbukitan Desa Mattirosari dan Lainungan, Kecamatan Watangpulu, Kabupaten Sidenreng Rappang (Sidrap), Sulawesi Selatan ini merupakan pembangkit komersial skala besar pertama di Indonesia yang memanfaatkan energi angin.

Uji coba interkoneksi PLT Bayu Sidrap dengan jaringan PT PLN (Persero) sendiri telah dilakukan pada minggu pertama Januari 2018.

Selain PLT Bayu Sidrap I tersebut, tiga PLT Bayu lain dijadwalkan dapat beroperasi dalam waktu dekat yaitu PLT Bayu Sidrap tahap II, PLT Bayu Jeneponto yang berada di Kabupaten Jeneponto, Sulawesi Selatan dan PLT Bayu Tanah Laut yang berlokasi di Kecamatan Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan.


"Ketiganya, harganya sangat ekonomis. Artinya target EBT tercapai dan harga listrik murah untuk rakyat juga terwujud," ujar Kepala Biro Komunikasi, Layanan Informasi Publik dan Kerja Sama Kementerian ESDM Agung Pribadi dalam keterangan resmi, dikutip Kamis (25/11).

Sama dengan PLT Bayu Sidrap tahap I, PLT Bayu Sidrap tahap II dengan kapasitas 50 megawatt (MW) juga akan dibangun oleh PT UPC Sidrap Bayu Energi.

Harga jual listrik dari Pembangkit ini disepakati sesuai dengan Peraturan Menteri (Permen) ESDM Nomor 50 Tahun 2017 tentang Pemanfaatan Sumber Energi Terbarukan Untuk Penyediaan Tenaga Listrik, yaitu dibawah 85 perseb dari Biaya Pokok Penyediaan Pembangkitan (BPP) Wilayah Sulawesi Selatan, Sulawesi Tenggara, dan Sulawesi Barat (Sulselrabar) yang sebesar US$0,081 per kiloWatthour (kWh).

PT PLN (Persero) akan menyiapkan kajian teknis terkait implementasi PLTB Sidrap II terhadap sistem jaringan PLN.

Sementara itu, PLT Bayu Jeneponto kapasitas 60 MW, dengan investasi sebesar US$150 juta ditargetkan akan beroperasi secara komersial (Commercial Operation Date/COD) pada tahun 2018. Dengan estimasi kecepatan angin sekitar 7,5 hingga 8 meter per detik (m/s), PLT Bayu ini rata-rata akan memproduksi 198,6 Gigawatt hours (GWh) per tahun. Proyek ini sedikitnya menyerap 190 orang tenaga kerja.

Selain PLT Bayu Sidrap II dan Jeneponto, PLT Bayu Tanah Laut di Kalimantan Selatan juga akan melengkapi deretan PLT Bayu yang akan beroperasi di Indonesia. Pengembang PLT Bayu Tanah Laut adalah konsorsium Pace Energy pte. Ltd & PT Juvisk Tri Swarna.

Penandatanganan Letter of Intent (LoI) pembangkit ini disaksikan langsung oleh Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan di sela-sela acara Renewable Energy Companies Commited to Climate, dalam rangkaian One Plannet Summit, di Kantor Pusat UNESCO, Paris, tanggal 11 Desember 2017 lalu.

PLT Bayu Tanah Laut, dengan nilai investasi sebesar US$153 juta, ditargetkan COD pada tahun 2021. PLT Bayu ini akan dibangun dalam tiga tahap, dengan tahap I sebesar 70 MW, tahap II sebesar 20 MW dan tahap ketiga berkapasitas 60 MW. Dukungan kuat dan izin lokasi juga ditunjukkan oleh Bupati Tanah Laut untuk pengembangan PLT Bayu ini.

Tak hanya PLT Bayu, pemerintah juga terus memantau pembangunan pembangkit listrik dengan sumber Energi Baru Terbarukan (EBT) seperti PLT Arus Laut Larantuka, PLTS Terapung Cirata, PLTM Wadubori, dan PLTMH Warabiai.

Agung menegaskan komitmen pemerintah untuk mengembangkan EBT di Indonesia. Selama ini, pembangkit listrik EBT terus memberikan kontribusi besar terhadap perkembangan pembangkit listrik. Tercatat, sejak tahun 2011, pembangkit listrik EBT mengalami peningkatan rata-rata sebesar sepuluh persen setiap tahun.

"Catatan ini adalah bukti komitmen pemerintah dalam mengembangkan EBT," ujarnya.

Selain itu, Agung juga menekankan EBT harus menarik bagi investor, dan harga jual listriknya tetap harus kompetitif agar tarif konsumen tidak mahal.

Agung mengungkapkan tren positif kontribusi pembangkit EBT dimulai sejak tahun 2011 dengan kapasitas terpasang sekitar 5,16 Gigawatt (GW). Angka ini mengalami peningkatan pada tahun 2012, yaitu sebesar 5,48 GW atau meningkat 6,2%l persen. Selanjutnya, pada tahun 2013, kontribusi EBT melonjak sebesar 21,1 persen atau menjadi 6,6 GW.

Pada tahun 2014, pembangkit Listrik EBT menyumbang 7,5 GW atau meningkat 13,3 persen, 8,4 GW atau 12,1 persen pada tahun 2015 dan 8,8 GW atau 4,2 persen pada tahun 2016.

Sementara untuk tahun 2017, capaian total kapasitas pembangkit EBT setidaknya meningkat 9,1 GW atau naik sebesar 3,2 persen dari tahun sebelumnya.

Dengan rincian, penyediaan pembangkit panas bumi mencapai 1.838,50 MW, PLT Bioenergi sebesar 1.834 MW, PLT Mini/Mikro Hidro (PLTMH) sebesar 203,02 MW, PLT Surya (PLTS) 89,48 MW, PLT Air (PLTA) sebesar 5.124,60 MW dan PLT Bayu sebesar 1,12 MW. (lav/lav)