BKPM: Program 10 Bali Baru Bakal Angkat Investasi Luar Jawa

Dinda Audriene Muthmainah, CNN Indonesia | Rabu, 31/01/2018 15:22 WIB
BKPM: Program 10 Bali Baru Bakal Angkat Investasi Luar Jawa Badan Koordinasi Penanaman Modal menilai program 10 destinasi pariwisata atau 10 Bali baru dapat menumbuhkan porsi investasi luar Pulau Jawa. (CNN Indonesia/Dinda Audriene Muthmainah).
Jakarta, CNN Indonesia -- Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) menilai program pemerintah terkait 10 destinasi pariwisata atau disebut juga 10 Bali baru dapat menumbuhkan porsi investasi luar Pulau Jawa.

Maklum, porsi investasi di luar Pulau Jawa menurun pada tahun 2017. Data BKPM menunjukan, jumlah investasi di luar Pulau Jawa tahun 2017 dari Penanaman Modal Asing (PMA) dan Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) sebesar Rp302,9 triliun.

Kepala BKPM Thomas Lembong menyatakan, angka itu memiliki porsi sebesar 43,7 persen dari total realisasi investasi sebesar Rp692,8 triliun. Sedangkan sisanya sebesar Rp389,9 triliun untuk investasi di Pulau Jawa.

"Kalau kami lihat tahun 2017 porsi yang di luar Jawa 43,7 persen, sedangkan tahun 2016 di luar Pulau Jawa 46 persen," ujar Lembong, Selasa (30/1).


Meski secara porsi turun, sebenarnya nilai investasi di luar Pulau Jawa tahun 2017 meningkat 6,6 persen dari tahun 2016 yang hanya Rp284,1 triliun. Namun, nilai investasi di Pulau Jawa memang jauh lebih pesat, yakni 18,6 persen dari tahun 2016 sebesar Rp328,7 triliun.

Seperti diketahui, program 10 Bali baru yang sedang dirancang oleh pemerintah meliputi beberapa tempat wisata, seperti Candi Borobudur di Jawa Tengah, Gunung Bromo dan Gunung Sumeru di Jawa Timur, dan Wakatobi di Sulawesi Tenggara.

Kemudian, Kepulauan Seribu di DKI Jakarta, Danau Toba di Sumatera Utara, Tanjung Lesung di Banten, Mandalika di Nusa Tenggara Barat (NTB), Morotai di Maluku Utara, dan Tanjung Kelayang di Bangka Belitung.

"Investasi pariwisata itu bisa cepat, karena untuk bangun pabrik butuh tiga sampai lima tahun, sementara hotel bisa satu sampai dua tahun," papar Lembong.

Selain itu, investasi pariwisata ini juga bisa menambah lapangan kerja karena bersifat padat karya. Beberapa investasi tersebut ditempatkan dalam bentuk pembangunan restoran, hotel, dan jasa hiburan.

"Kemudian juga banyak menghasilkan devisa," kata Lembong.

Selanjutnya, porsi investasi di luar Pulau Jawa juga dapat didorong oleh kerja sama Indonesia dengan Tiongkok dalam rangka One Belt One Road (OBOR) terkait proyek infrastruktur di Sumatera Utara, Sulawesi Utara, dan Kalimantan Utara. (lav/lav)