IMF Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen Jangka Menengah

Galih Gumelar, CNN Indonesia | Rabu, 07/02/2018 13:53 WIB
IMF Ramal Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,6 Persen Jangka Menengah Dana Moneter Internasional (IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,6 persen per tahun dalam jangka menengah. (REUTERS/Kim Kyung-Hoon).
Jakarta, CNN Indonesia -- Dana Moneter Internasional (International Monetary Fund/IMF) memprediksi bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia bisa mencapai 5,6 persen per tahun dalam jangka menengah, ditopang permintaan domestik yang menguat.

Namun, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini diperkirakan hanya sebesar 5,3 persen, atau lebih rendah dibanding target Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2018 sebesar 5,4 persen.

Hal itu disampaikan dalam laporan kesimpulan dewan eksekutif IMF atas Article IV Consultation dengan Indonesia yang dikutip Rabu (7/2). Menurut laporan tersebut, pertumbuhan hingga 5,6 persen ini ditopang oleh kuatnya permintaan domestik akibat inflasi yang diperkirakan sebesar 3,5 persen.


Inflasi yang masih dalam rentang target pemerintah ini disebabkan karena kestabilan harga pangan dan harga-harga yang diatur pemerintah (administered prices).

Meski demikian, dewan eksekutif IMF mengingatkan Indonesia bahwa sentimen eksternal masih sangat mempengaruhi kinerja ekonomi, utamanya dari pertumbuhan ekonomi China yang masih belum pulih dan kebijakan ekonomi Amerika Serikat (AS). Tak hanya itu, Indonesia juga perlu waspada akan arus modal keluar (capital outflow).

"Penyesuaian fiskal pada 2018 harus bertahap untuk melindungi pertumbuhan sembari meningkatkan ketahanan anggaran," ujar dewan eksekutif IMF melalui siaran pers, dikutip Rabu (7/2).

Lebih lanjut, IMF juga menyoroti potensi shortfall pajak dan besarnya kebutuhan pendanaan fiskal sebagai persoalan internal yang bisa jadi batu sandungan bagi penguatan ekonomi Indonesia. Terlebih, saat ini suku bunga meningkat, sehingga pendanaan eksternal dipandang cukup berbahaya.

Sebetulnya, IMF mengapresiasi pemerintah Indonesia dalam mengalokasikan anggaran untuk kepentingan publik. Namun, tentu saja ini harus diiringi dengan penerimaan pajak yang luar biasa di awal tahun agar mengurangi ketergantungan akan pendanaan eksternal.

"Penerimaan dini untuk mendukung kebijakan anggaran yang bisa menopang pertumbuhan ekonomi tentu perlu didorong," imbuhnya.

Lebih lanjut, dewan eksekutif IMF juga menyambut baik kemajuan investasi infrastruktur di Indonesia. Asal, laju pembangunan infrastruktur tentu harus sejalan dengan ketersediaan pendanaan dan kemampuan ekonomi untuk menyerap anggaran tersebut.

Maka itu, IMF berharap pihak swasta bisa lebih dilibatkan dalam proyek infrsatruktur, di mana Penanaman Modal Asing (PMA) nantinya tentu bisa menyumbang pertumbuhan ekonomi. (lav/bir)