Kenaikan Stok AS di Bawah Ekspektasi, Harga Minyak Menguat

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Kamis, 15/02/2018 07:27 WIB
Kenaikan Stok AS di Bawah Ekspektasi, Harga Minyak Menguat Harga minyak mentah Brent melejit 2,6 persen, sedangkan harga mintak berjangka AS West Texas Intermediate terkerek 2,4 persen. (ANTARA FOTO/Rosa Panggabean)
Jakarta, CNN Indonesia -- Reli kenaikan harga minyak dunia terjadi pada perdagangan Rabu (14/2), waktu Amerika Serikat (AS).

Harga minyak mentah berjangka Brent melejit US$1,64 atau 2,6 persen menjadi US$64,36 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) terkerek US$1,41 atau 2,4 persen menjadi US$60,6 per barel.

Dilansir dari Reuters, Kamis (15/2), reli harga minyak salah satunya disebabkan oleh kenaikan persediaan minyak mentah AS di bawah ekspektasi. Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Eneri AS (EIA), persediaan minyak mentah AS pekan lalu naik 1,8 juta barel atau lebih rendah dari perkiraan yang mencapai 2,8 juta barel.

Selain itu, pelemahan dolar AS juga mendorong kenaikan harga. Kemarin, kurs dolar melemah 0,7 persen, seiring rilis data inflasi yang lebih kuat dari perkiraan. Sebagai catatan, harga minyak cenderung berbanding terbalik terhadap kurs dolar.


Tak hanya itu, harga minyak juga terdongkrak oleh pernyataan Menteri Energi Arab Saudi Khalid Al-Falih yang mengaku lebih memilih pasar yang sedikit kekurangan pasokan dibandingkan mengakhiri kesepakatan pemangkasan pasokan terlalu dini.

Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya, termasuk Rusia, telah memotong pasokan sejak Januari 2017 untuk mengurangi persediaan minyak global. Kesepakatan ini akan berlangsung hingga akhir tahun ini.

Ada kekhawatiran terhadap efektifitas kesepakatan mengingat produksi minyak AS naik tajam di atas ekspektasi, sehingga OPEC dan Rusia mungkin bakal mencari cara untuk keluar dari kesepakatan demi menjaga pangsa pasar. Pernyataan Al Falih menampik kemungkinan tersebut.


"Komentar dari Al Falih sejauh ini merupakan hal yang signifikan dan memberikan gambaran besar. Pernyataan ini dikatakan dengan tegas dan mereka benar-benar tidak ingin harga Brent berada di bawah US$60," ujar Direktur Pelaksana dan Kepala Risel Minyak Global Societe General Michael Wittner.

EIA menyatakan produksi minyak mentah AS naik menjadi 10,27 juta barel pekan lalu, dan jika dikonfirmasi oleh data bulanan, maka akan menjadi rekor tertinggi AS. Badan Energi Internasional pada Selasa lalu menyatakan kenaikan pasokan yang pesat, khususnya di AS, dapat melampaui konsumsi.

Pasar fisik mencerminkan kekhawatiran tersebut. Harga minyak mentah dari Laut Utara, Rusia, AS, dan Timur Tengah telah terseret ke level terendah untuk beberapa bulan. (agi)