PwC: Kredit Konsumer Berpotensi Dorong Laju Kredit Bank

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 27/02/2018 15:11 WIB
PwC: Kredit Konsumer Berpotensi Dorong Laju Kredit Bank Pricewaterhouse Cooper (PwC) Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit konsumer akan menggerakan laju kinerja kredit bank secara keseluruhan pada 2018. (Adhi Wicaksono).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga konsultan Pricewaterhouse Cooper (PwC) Indonesia memproyeksi pertumbuhan kredit konsumer akan menggerakan laju kinerja kredit bank secara keseluruhan pada 2018.

Berdasarkan hasil survei yang dilakukan PwC, sebanyak 71 persen responden yang berasal dari kalangan bankir meyakini bahwa kredit konsumer akan tumbuh lebih dari 10 persen pada 2018.

Keyakinan itu bertambah dibandingkan hasil survei tahun sebelumnya. Pada 2017, keyakinan bahwa kredit konsumer tumbuh lebih dari 10 persen hanya dinyatakan oleh 58 persen responden.



"Berdasarkan hasil survei pertumbuhan kredit konsumer sebesar 10 persen pada tahun ini, ini lebih tinggi dari tahun lalu," ujar Advisor of PwC Indonesia David Wake saat memaparkan hasil survei, Selasa (27/2).

Dengan begitu, sumbangan kredit konsumer terhadap total kredit akan lebih besar pada tahun ini, meski kontribusi terbesar masih berasal dari kredit usaha untuk korporasi dan kalangan menengah.

Lebih lanjut, Wake menilai pertumbuhan kredit konsumer juga ditopang oleh peluang perbaikan ekonomi Indonesia yang dipengaruhi oleh pertumbuhan ekonomi global tahun ini.

KPR Paling Bergairah

Kredit konsumer dari lini Kredit Pemilikan Rumah (KPR) dan kartu kredit dianggap akan mengalami pertumbuhan paling signifikan.

Hasil survei mencatat keyakinan pertumbuhan kredit konsumer dari KPR dari responden mencapai 63 persen. Lalu, kartu kredit sekitar 29 persen.

Sedangkan, produk kredit konsumer lain yang diyakini akan tumbuh ialah kredit ke otomotif sekitar 25 persen responden dan kredit mikro sekitar 19 persen responden.

"Secara jelas, pertumbuhan dari KPR masih menjadi fokus utama, tapi secara keseluruhan, kami berharap semua segmen di kredit konsumer tumbuh lebiht tinggi," terangnya.


Tak hanya itu, kepercayaan bahwa kredit konsumer akan tumbuh lebih tinggi lantaran risiko kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) dari segmen kredit ini relatif lebih kecil dibandingkan dengan kredit sektor lain, misalnya kredit usaha kecil dan korporasi.

Sementara secara keseluruhan, pertumbuhan kredit bank diyakini turut lebih baik dari tahun lalu, di mana tingkat keyakinan responden survei meningkat bahwa pertumbuhan kredit bank bisa menembus kisaran 10-15 persen.

PwC Indonesia mencatat, sekitar 38 persen bankir meyakini pertumbuhan kredit bisa mencapai 10-15 persen pada tahun ini. Sedangkan tahun lalu, hanya sekitar 27 persen bankir yang berani percaya bahwa kredit bisa tumbuh di angka 10-15 persen. (lav/bir)