Bisnis Otomotif jadi Penyumbang Laba Astra Melesat 25 Persen

Dinda Audriene Mutmainah, CNN Indonesia | Selasa, 27/02/2018 20:29 WIB
Bisnis Otomotif jadi Penyumbang Laba Astra Melesat 25 Persen PT Astra International Tbk membukukan laba bersih sebesar 25 persen jadi Rp18,88 triliun. Bisnis otomotif masih menjadi penyumbang utama laba perseroan. (REUTERS/Iqro Rinaldi).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Astra International Tbk (ASII) membukukan pertumbuhan laba bersih sebesar 25 persen jadi Rp18,88 triliun pada akhir tahun lalu dibandingkan tahun sebelumnya, yaitu Rp15,15 triliun. Lini usaha otomotif masih menjadi penyumbang utama perolehan laba perseroan.

Direktur Utama Prijono Sugiarto menerangkan, bisnis otomotif mencetak laba bersih sebesar Rp8,86 triliun di sepanjang tahun lalu. Secara nominal, memang kontribusi bisnis otomotif ini terbilang paling tinggi. Namun, pencapaian itu turun tiga persen dari raihan laba bersih 2016 yang sebesar Rp9,16 triliun.

"Penjualan mobil Astra menurun dua persen menjadi 579 ribu unit dan pangsa pasarnya turun jadi 54 persen," katanya dalam keterangan resmi, Selasa (27/2).



Perseroan juga berhasil mempertahankan angka penjualan motornya sebanyak 4,4 juta unit. Padahal, penjualan motor nasional tercatat turun satu persen menjadi 5,9 juta unit.

Lebih lanjut Prijono mengatakan, kontribusi laba bersih lainnya berasal dari lini usaha alat berat, pertambangan, konstruksi dan energi. Maklum, harga komoditas memang menanjak sejak tahun lalu.

"Kontribusi laba grup alat berat, pertambangan, konstruksi, dan energi meningkat 47 persen menjadi Rp4,5 triliun," imbuh Prijono.


Bila dirinci, laba bersih dari salah satu perusahaan alat berat, PT United Tractors Tbk (UNTR) meraup laba bersih sebesar Rp7,4 triliun atau naik 48 persen. Kenaikan harga batu bara menjadi penopang utama kinerja perusahaan.

Selanjutnya, lini usaha jasa keuangan menempati peringkat ketiga tertinggi dari segi raihan laba bersih, yakni Rp3,75 triliun. Jasa keuangan menjadi lini usaha dengan pertumbuhan laba bersih tertinggi sebesar 376 persen dari posisi sebelumnya yang hanya Rp789 miliar.

"Peningkatan ini sebagai dampak profitabilitas dari PT Bank Permata Tbk (BNLI) serta kenaikan kontribusi PT Astra Sedaya Finance, PT Federal International Finance, dan PT Asuransi Astra Buana," papar Prijono.


Menurut Prijono, Bank Permata mencatatkan laba bersih sebesar Rp748 miliar. Raihan itu berbanding terbalik dengan tahun sebelumnya yang masih merugi hingga Rp6,5 triliun. Sementara, total pembiayaan yang disalurkan oleh perusahaan pembiayaan Grup Astra tumbuh tiga persen menjadi Rp81,7 triliun.

Adapun, laba bersih konsolidasian juga diperoleh dari lini usaha agribisnis sebesar Rp1,6 triliun, teknologi informasi sebesar Rp198 miliar, dan properti sebesar Rp223 miliar. Sayangnya, lini usaha infrastruktur dan logistik justru merugi hingga Rp231 miliar.

"Hal ini sebagian besar disebabkan oleh kerugian awal dari ruas jalan tol baru Cikopo-Palimanan yang 45 persen sahamnya diakuisisi Grup awal tahun 2017," jelas Prijono.


Adapun, pendapatan secara grup tercatat naik 14 persen dari Rp181,08 triliun menjadi Rp206 triliun. Sementara, nilai aset bersih per saham pada akhir tahun 2017 sebesar Rp3.054, meningkat 10 persen dari tahun 2016 yang hanya Rp2.765. (bir)