ANALISIS

Bank Besar Untung, Bank Kecil 'Buntung'

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Rabu, 28/02/2018 11:22 WIB
Bank Besar Untung, Bank Kecil 'Buntung' Kenaikan laba di tahun lalu hanya dicatatkan oleh kelompok bank yang memiliki modal besar, sedangkan kelompok bank kecil tahun lalu mengalami kerugian. (REUTERS/Nyimas Laula)
Jakarta, CNN Indonesia -- Sektor perbankan boleh jadi salah satu sektor industri yang moncer tahun lalu. Meski pertumbuhan kredit tak tinggi, industri perbankan masih menikmati pertumbuhan laba dua digit. Pertumbuhan laba tersebut tertinggi sejak 2010 lalu.

Berdasarkan data Statistik Perbankan Indonesia (SPI) Otoritas Jasa Keuangan (OJK), laba bank sepanjang tahun lalu tumbuh 23 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dari Rp106,54 triliun pada 2016 menjadi Rp131,14 triliun. Padahal, kredit yang selama ini menjadi motor pertumbuhan industri tersebut, hanya tumbuh 8,2 persen (yoy). Di sisi lain, kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) yang menjadi penyebab tergerusnya untung bank dalam beberapa tahun terakhir berhasil membaik dari 2,9 persen pada 2016 menjadi 2,6 persen.

Sayangnya, pertumbuhan laba tinggi yang ditorehkan industri, tak sama rata masuk ke kantong bank. Pada tahun lalu, hanya bank yang bermodal tebal saja yang tercatat mampu mengantongi untung besar, sedangkan bank bermodal tipis terpaksa menelan kerugian.


Menurut catatan OJK, laba bank yang memiliki modal inti di bawah Rp1 triliun atau Bank Umum Kegiatan Usaha (BUKU) I tercatat anjlok 16,84 persen (yoy) menjadi Rp861 miliar. Laba bank yang memiliki modal inti Rp1 triliun hingga di bawah Rp5 triliun atau BUKU II juga melorot 7,94 persen (yoy) menjadi Rp9,5 triliun.

Berbanding terbalik, bank dengan modal inti Rp5 triliun hingga di bawah Rp30 triliun atau BUKU III justru paling tokcer mendongkrak laba hingga 33,73 persen dari Rp24,93 triliun pada 2016 menjadi Rp33,34 triliun. Begitu pula dengan bank dengan modal inti Rp30 triliun ke atas atau BUKU IV yang labanya berhasil naik 24,64 persen dari Rp69,46 triliun menjadi Rp86,58 triliun.
Bank Besar Untung, Bank Kecil 'Buntung'Data laba perbankan berdasarkan kelompok BUKU. (CNN Indonesia/Fajrian)
Ketua Dewan Komisioner Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) Halim Alamsyah menilai, meningkatnya laba bank-bank besar sebenarnya bukan didorong oleh membaiknya fundamental bisnis perbankan. Laba yang melonjak pada bank besar, lebih banyak didorong proses restrukturisasi kredit yang sudah mengalami progres sehingga biaya pencadangan kredit turun cukup signifikan dan mendongkrak laba.

"Kenaikan laba (bank besar) lebih karena pencadangannya diturunkan, bukan karena fundamentalnya," ujar Halim kepada CNNIndonesia.com, Selasa (27/2).

Di sisi lain, menurut Halim, kerugian yang dialami bank kecil disebabkan bisnis yang memang kian sulit bagi bank-bank tersebut. Penurunan suku bunga kredit yang dilakukan bank besar, menjadi salah satu penyebab bisnis bank kecil terhimpit di tahun lalu.

"Beban bunga mereka mahal, sementara suku bunga kredit tak bisa mereka naikkan karena bank-bank besar masih menahan bunga kredit supaya tidak naik. Permintaan kredit juga belum naik, sehingga sulit kalau mereka mau menaikkan bunga," terang Halim.

Halim pun memperkirakan pada semester pertama tahun ini, bank belum akan gencar melakukan ekspansi kredit. Penyaluran kredit, menurut dia, diperkirakan baru akan mulai tumbuh kencang di semester kedua.

Sementara itu, Ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara menyebut, ada segudang masalah yang membuat laba bank-bank kecil ambles di tahun lalu.

Pertama, keterbatasan modal pada bank-bank kecil membuat kapasitas penyaluran kreditnya lebih terbatas. Hal ini berbeda dengan bank-bank besar yang memiliki keleluasaan dalam memberikan kredit karena modal yang besar,

Walhasil, pasar atau segmen kredit yang disasar bank kecil pun tak banyak dan secara otomatis hanya memiliki spesialisasi penyaluran kredit ke Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM). Sementara bank besar, bisa masuk ke semua segmen, dari UMKM hingga korporasi. Bahkan, bisa menikmati penyaluran kredit ke infrastruktur yang tengah masif dibangun.

"Padahal kredit yang juara (memberikan dampak ke kinerja penyaluran kredit bank) adalah kredit konstruksi, tapi itu bukan mainannya bank BUKU I dan II," terang Bhima.

Kedua, segmen kredit UMKM yang menjadi 'makanan sehari-hari' bank kecil justru tengah bermasalah pada tahun lalu. Tercatat, pertumbuhan rata-rata sektor UMKM hanya 10 persen secara tahunan (yoy). Namun, NPL-nya membengkak tipis dari 3,95 persen (yoy) pada 2016 menjadi 3,98 persen (yoy) pada 2017.

Walhasil, dengan cuan yang tak seberapa didapat, bank kecil justru harus kerja keras membersihkan kredit-kredit yang bermasalah. "Sektor mikro UMKM ini pertumbuhan labanya memang rendah dan NPL-nya naik," imbuhnya.

Ketiga, bank kecil juga masih merasakan dampak program pengampunan pajak (tax amnesty) yang mengakibatkan Dana Pihak Ketiga (DPK) bank kecil banyak berpindah tangan ke bank besar.

"Ada efek juga dari tax amnesty. DPK bank kecil kesedot ke bank BUKU III dan IV sebagai bank persepsi yang mengumpulkan uang tax amnesty (sesuai penunjukkan dari pemerintah)," terangnya.

Keempat, di tengah persaingan pasar dengan bank besar, Bhima melihat, bank kecil juga minim dukungan dari pemerintah. Hal ini tercermin dari mayoritas penunjukkan 'agen' Kredit Usaha Rakyat (KUR) diberikan ke bank besar.

Padahal, nasabah yang disasar seharusnya masuk segmen kredit bank kecil. "Seharusnya, porsi KUR dan jumlah bank penyalur dari BUKU I dan II diperbanyak. Apalagi, bank kecil fokusnya UMKM, sehingga pertumbuhan kredit bisa lebih merata," tekannya.

Senada, lembaga konsultan, Pricewaterhouse Cooper (PwC) Indonesia melihat, memang keterbatasan bank kecil meraup laba terjadi lantaran terbatasnya segmen kredit yang bisa disasar oleh bank. Persaingan dengan bank besar pun makin sulit ditaklukan.

"Untuk bank besar, mereka memiliki diversitas penyaluran kredit, baik ke ritel maupun korporasi. Begitu pula dengan bank berukuran menengah, mereka punya opsi menyalurkan kredit ke beberapa korporasi dan usaha menengah. Jadi ini area yang tidak bisa dijangkau oleh bank kecil," kata Financial Services Leader PwC Indonesia David Wake kepada CNNIndonesia.com secara terpisah.

Selain itu, kinerja industri perbankan secara keseluruhan juga berdampak ke bank kecil. Ia mencontohkan, ketika bank besar masih 'bersih-bersih' kredit bermasalah, bank kecil juga harus membenahi kredit yang bermasalahnya.

"Ada juga soal biaya operasional, mereka (bank kecil) mungkin akan lebih tinggi biayanya daripada bank besar," katanya.


Konsolidasi Harga Mati
Dengan kinerja laba yang anjlok, Bhima melihat, sudah waktunya bagi bank-bank kecil untuk mencari tambahan modal segar. Modal, menurut dia, menjadi kata kunci utama untuk memulihkan kesehatan kinerja bank kecil. Adapun tambahan modal itu, bisa didapat dengan mencari investor strategis untuk menyuntikkan modal hingga melakukan aksi penggabungan (merger) dan pengambilalihan (akuisisi) bank.

"Sebenarnya ini peluang bagi BUKU I dan II untuk melakukan konsolidasi, dengan merger dan akuisisi. Bank harus naik kelas biar struktur modalnya kuat dan jangkauan kreditnya besar," jelasnya.

Selain memperkuat modal, Bhima melihat, prospek pertumbuhan laba bank kecil masih bisa didongkrak dengan memanfaatkan momentum perbaikan pertumbuhan ekonomi.

"Masih bisa tumbuh labanya karena secara prospek ekonomi membaik, ditopang oleh perbaikan permintaan domestik," ujarnya.

Adapun hal ini juga didukung dengan akan diselenggarakannya hajatan politik Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) serentak di 117 daerah pada tahun ini, sehingga memberikan potensi meningkatnya konsumsi masyarakat.


Senada, Halim menilai konsolidasi atau merger antara bank kecil mau tak mau harus dilakukan. Tanpa konsolidasi atau merger, bank-bank kecil yang ada saat ini akan sulit bertahan.

"Konsolidasi ini mau tidak mau harus dilakukan kalau mereka tidak mau kalah saing. Saat ini, masalah bank kecil ini adalah kalah saing, strategi bisnisnya hanya memenuhi permintaan beberapa sektor," terang dia.

Selain itu, untuk bertahan, menurut Halim, bank-bank kecil harus mampu melihat celah pasar yang tak sanggup diambil bank-bank besar.

Sementara David melihat, memang merger dan akuisisi bisa menjadi jalan keluar. Hanya saja, di lain sisi, langkah ini juga bisa memberikan risiko bila rekanan yang dipilih dan strategi ke depan justru tak cocok dengan apa yang dijalankan bank saat ini dan kebutuhan pasar mendatang.

"Memang merger dan akuisisi bisa jadi jalan keluar, tapi ini harus dilihat risikonya. Bila bank kecil mau tumbuh dan meningkatkan investasi mereka, mereka harus memperkuatnya dengan matang, tapi untuk mengubah itu dengan cepat, mempunyai risiko di pasar," katanya. (agi/agi)