Naik 15 Persen, BTN Cetak Laba Rp3,02 Triliun Sepanjang 2017

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 13/02/2018 15:33 WIB
Naik 15 Persen, BTN Cetak Laba Rp3,02 Triliun Sepanjang 2017 PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) meraup untung bersih sebesar Rp3,02 triliun sepanjang tahun 2017. (CNN Indonesia/Safyra Primadhyta).
Jakarta, CNN Indonesia -- PT Bank Tabungan Negara (Persero) Tbk (BTN) meraup untung bersih sebesar Rp3,02 triliun sepanjang tahun 2017. Capaian tersebut melejit 15,59 persen dalam perhitungan tahunan (year on year/yoy), dibandingkan realisasi tahun sebelumnya Rp2,61 triliun.

"Pada 2018, pertumbuhan net profit kami perkirakan lebih besar dari 25 persen," tutur Direktur Utama BTN Maryono dalam konferensi pers, Selasa (13/2).

Maryono mengungkapkan, kenaikan laba perseroan tahun lalu ditopang oleh pertumbuhan pendapatan bunga bersih perseroan, seiring naiknya penyaluran kredit dan penghimpunan simpanan.



Tercatat, pendapatan bunga bersih tumbuh 14,45 persen (yoy) menjadi Rp9,44 triliun. Sementara itu, pendapatan operasional lainnya mencapai Rp1,61 triliun atau tumbuh 25,39 persen (yoy).

Dari sisi bisnis, perseroan telah menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp198,99 triliun atau tumbuh 21,01 persen (yoy). Kontribusi terbesar berasal dari penyaluran Kredit Pemilikan Rumah (KPR) yang mencapai 90,07 persen dengan nilai Rp178,23 triliun atau tumbuh 21,14 persen secara tahunan.

Jika dirinci, Kredit KPR bersubsidi tercatat tumbuh 32,45 persen menjadi Rp75,23 triliun, sedangkan KPR nonsubsidi tercatat tumbuh 14,62 persen menjadi Rp69,31 triliun.

Kemudian, kredit konstruksi perseroan juga naik 18,98 persen dari Rp21,92 triliun menjadi Rp26,08 triliun pada akhir 2017. Selanjutnya, kredit perumahan lainnya tercatat senilai Rp8,56 triliun pada Desember 2017.

Perseroan juga mencatatkan pertumbuhan penyaluran kredit non perumahan sebesar 19,78 persen (yoy) menjadi Rp19,76 triliun. Kenaikan tersebut ditopang oleh peningkatan kredit konsumer sebesar 1,59 persen menjadi Rp4,81 triliun dan kredit komersial sebesar 27,12 persen menjadi Rp14,95 triliun pada akhir 2017.


Dari sisi kualitas kredit, perseroan mencatatkan penurunan rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) kotor (gross) dari semula 2,84 persen pada 2016, kini menjadi 2,66 persen. Secara net, NPL perseroan juga merosot dari 1,85 persen menjadi 1,66 persen.

"NPL BTN memang turun saya kira ini seperti tren perbankan lainnya di mana tren NPL-nya juga turun," ujar Direktur BTN Nixon Napitupulu di tempat yang sama.

Menurut Nixon, perbaikan kualitas kredit paling besar terjadi di sektor komersial yaitu sebesar 1,12 persen, seiring upaya restrukturisasi yang dilakukan perseroan.

"Belakangan kami melakukan restrukturisasi akun-akun komersial terutama yang untuk highrise building," ujarnya.

Di sisi lain, kenaikan NPL terjadi pada KPR Nonsubsidi di segmen tengah sebesar 0,36 persen. Ke depan, perusahaan akan mengambil langkah dengan cara menjual aset kredit yang hak jualnya telah diserahkan ke perseroan, melelang aset kredit, dan melakukan restrukturisasi kredit nasabah yang memiliki kemampuan.

"Tantangan perseroan tahun ini memang bagaimana menurunkan NPL KPR Nonkomersial," ujarnya.

Lebih lanjut, sepanjang tahun lalu, perusahaan telah menghimpun Dana Pihak Ketiga (DPK) senilai Rp192, 95 triliun atau naik 20,45 persen dibandingkan tahun 2016. Porsi simpanan didominasi oleh deposito sebesar Rp97,35 triliun atau tumbuh 22,42 persen. Kemudian, giro menyusul sebesar Rp54,66 triliun naik 19,21 persen, dan tabungan tumbuh 17,57 persen menjadi Rp40,95 triliun.


Adapun, aset perseroan tercatat Rp261,36 triliun atau melejit 22,04 persen.

"Aset BTN saat ini telah mencapai Rp261,36, triliun dan sebentar lagi kami optimistis target bank terbesar ke-5 berdasarkan aset akan terpenuhi," ujar Maryono. (lav/bir)