PwC: Bank BUMN Kian Gencar Lakukan Digitalisasi

Yuli Yanna Fauzie, CNN Indonesia | Selasa, 27/02/2018 20:53 WIB
PwC: Bank BUMN Kian Gencar Lakukan Digitalisasi Lembaga konsultan jasa Pricewaterhouse Cooper (PwC) Indonesia memperkirakan perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kian gencar melakukan digitalisasi. (REUTERS/Beawiharta).
Jakarta, CNN Indonesia -- Lembaga konsultan jasa Pricewaterhouse Cooper (PwC) Indonesia memperkirakan perbankan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) kian gencar melakukan digitalisasi pada semua lini layanan bagi nasabah pada tahun ini.

Berdasarkan hasil Survei Perbankan Indonesia 2018 yang diterbitkan PwC, bank BUMN melakukan digitalisasi karena adanya transformasi kebutuhan layanan bank bagi nasabah dari yang sebelumnya lebih banyak di kantor cabang, kini ke sistem digital.

Misalnya, penggunaan situs internet, sistem elektronik bank (e-banking system), hingga aplikasi pada ponsel pintar (smartphone).

"Transformasi (ke digitalisasi) ini cukup konsisten dijalankan sejak tahun lalu. Mereka mengubah layanan berdasarkan kebutuhan nasabah," ujar Lucy Suhenda, Banking Leader PwC Indonesia saat merilis hasil survei tersebut, Selasa (27/2).


Lebih lanjut, Lucy menjelaskan digitalisasi yang dilakukan para bank BUMN ini lebih banyak pada sistem inti (core system) layanan yaitu mencapai 44 persen dari total layanan.

Diikuti pemanfaatkan akses digital untuk layanan yang langsung dirasakan oleh nasabah (front end) sekitar 33 persen dan sekitar 11 persen untuk pembaruan sistem di internal perusahaan (back office).

"Bank BUMN fokus pada sistem inti, sedangkan bank lain lebih banyak di back office," imbuhnya.

Sejalan dengan kian gencarnya digitalisasi, hasil survei mencatat nasabah lebih banyak menggunakan layanan transaksi digital tersebut dibandingkan dengan pergi ke kantor cabang.

Tercatat, transaksi melalui layanan digital meningkat dari 10 persen pada 2015 menjadi 20 persen pada 2017 dan diproyeksi akan meningkat hingga 35 persen dari total transaksi layanan bank pada tahun ini.

Sedangkan transaksi melalui kantor cabang justru kian meredup, diproyeksi hanya sekitar 30 persen pada tahun ini. Padahal, transaksi di kantor cabang sempat mencapai 75 persen pada 2015 silam. Namun, jumlah transaksinya terus menurun dalam dua tahun terakhir, di mana pada 2017 tergerus hingga tinggal 45 persen.

Meski begitu, hasil survei melihat bahwa transaksi di mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) masih cukup digemari di antara transaksi 'tradisional' dan 'modern' itu. Tercatat, transaksinya sekitar 15 persen pada 2017 dan diperkirakan meningkat hingga 22 persen pada tahun ini.

Kendati begitu, hasil survei menyebut nilai transaksi di kantor cabang masih tinggi, meski volume transaksinya berkurang dari tahun ke tahun. Hal ini lantaran transaksi dalam nilai besar, misalnya untuk pengajuan kredit skala besar masih kerap dilakukan di kantor cabang. (lav/bir)