Sentimen Kenaikan Produksi AS Bikin Harga Minyak Melorot

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 13/03/2018 06:54 WIB
Sentimen Kenaikan Produksi AS Bikin Harga Minyak Melorot Pada perdagangan Senin (12/3), harga minyak mentah berjangka Brent tergelincir US$0,54 atau 0,8 persen menjadi US$64,95 per barel. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak mentah dunia merosot pada perdagangan Senin (12/3), waktu Amerika Serikat (AS), akibat berlanjutnya sentimen terhadap kenaikan produksi minyak mentah AS. Data pekan lalu menunjukkan spekulator yang memangkas taruhan pada minyak, menandakan bahwa aksi jual dapat lebih banyak terjadi.

Dilansir dari Reuters Selasa (13/3), harga minyak mentah berjangka Brent tergelincir US$0,54 atau 0,8 persen menjadi US$64,95 per barel. Penurunan yang sedikit lebih dalam terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,68 atau 1,1 persen menjadi US$61,36 per barel.

Manajer investasi dan keuangan memangkas taruhan mereka pada tendensi harga minyak mentah bakal naik (bullish), dengan melorotnya posisi beli (long) pekan lalu untuk pertama kalinya dalam tiga minggu terakhir. Posisi jual (short) kotor pada New York Mercantile Exchange merangkak ke level tertinggi untuk hampir sebulan.


Hal itu telah mengurangi sebagian antusiasme terhadap komoditas minyak bersamaan dengan investor yang lebih banyak mempertimbangkan kenaikan pasokan minyak AS dibandingkan kemungkinan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya menjaga pemangkasan produksi yang telah memberikan efek lebih dari setahun.

"Pasar terus bergerak maju mundur terhadap gagasan kenaikan permintaan global dan pemangkasan produksi bakal menopang harga tetapi produksi AS dan produksi Amerika Utara secara umum bakal banyak melawan efek tersebut (kenaikan permintaan dan pemangkasan produksi)," ujar Direktur Riset Pasar Tradition Energy Gene McGillian.


Pada Jumat lalu, perusahaan pelayanan energi Baker Hughes menyatakan perusahaan energi pada pekan lalu memangkas jumlah rig untuk pertama kalinya selama hampir dua bulan.

Meskipun demikian, AS kini adalah produsen minyak mentah terbesar kedua di dunia, melampaui negara eksportir besar Arab Saudi.

"Kami (pasar) sedang menjaga posisi perdagangan dengan tendensi menurun (bearish) sebagai antisipasi harga WTI yang bergerak di kisaran US$58 hingga US$63 per barel." ujar Presiden Ritterbusch & Associates Jim Riterbusch dalam catatannya.


Minggu lalu, Wall Street Journal melaporkan bahwa Menteri Perminyakan Iran Bijan Zanganeh menyatakan OPEC dalam pertemuan Juni mendatang bisa menyepakati pelonggaran pemangkasan produksi mulai 2019.

Kemudian, pada Minggu lalu, perwakilan Arab Saudi juga menyatakan mereka bakal menunda penawaran saham perdana (IPO) perusahaan minyak Saudi Aramco hingga 2019.

Presiden Blue Line Futures Bill Baruch menyatakan, data Indeks Harga Konsumen (CPI) akan dirilis pekan bisa jadi sangat penting mengingat bakal berimbas kepada dolar AS. Pergerakan dolar AS cenderung berlawanan dengan harga minyak. Pelemahan dolar AS membuat harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar menjadi relatif lebih murah bagi pemegang mata uang lain. (agi/agi)