Proyeksi Penguatan Permintaan Dongkrak Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Selasa, 06/03/2018 07:19 WIB
Proyeksi Penguatan Permintaan Dongkrak Harga Minyak Dunia Harga minyak dunia terdongkrak pergerakan pasar saham Amerika Serikat, seiring dengan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak mentah. (REUTERS/Stringer).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia terdongkrak seiring dengan pergerakan pasar saham pada perdagangan Senin (5/3), waktu Amerika Serikat (AS). Kenaikan tersebut dipicu oleh proyeksi pertumbuhan permintaan minyak mentah yang kuat dan perhatian terhadap pertumbuhan produksi minyak mentah anggota Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) yang diperkirakan melambat pada beberapa tahun ke depan.

Dilansir dari Reuters, Selasa (6/3), harga minyak mentah berjangka acuan Brent menanjak US$1,17 atau 1,8 persen menjadi US$65,54 per barel. Sementara, harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) naik US$1,32 atawa 2,2 persen menjadi US$62,57 per barel.

Pada awal sesi perdagangan, harga minyak sempat datar, baru kemudian naik bersamaan dengan pasar saham AS. Sebagai catatan, Indeks S&P 500 menanjak sebesar satu persen sesaat sebelum penutupan perdagangan.



"Lonjakan di pasar modal pada hari ini merupakan pendorong terbesar di balik pemulihan harga minyak hari ini," ujar Presiden Ritterbusch & Associates Jim Ritterbusch dalam laporannya.

Analis juga menyatakan bahwa harga juga terdongkrak oleh komentar yang mengarah ke kenaikan harga (bullish) dari para menteri negara anggota OPEC dan pemain industri global lainnya pada pekan konferensi CERAWeek di Houston. Perhelatan ini merupakan konferensi energi terbesar yang diselenggarakan awal pekan ini.

"Profil produksi minyak Venezuela yang menurun, bersama dengan prospek kepatuhan terhadap kesepakatan pemangkasan produksi yang dipimpin oleh OPEC, mendukung harga minyak," terang Analis Energi Senior Interfax Energy's Global Gas Analytics Abhishek Kumar.


Menteri Perminyakan Ekuador Carlos Perez menyatakan, produksi minyak Venezuela saat ini berada di level 1,5 juta barel per hari (bph), di bawah rata-rata produksi sebelumnya. Berbicara di sela konferensi CERAWeek, Perez menilai, permasalahan tersebut harus diangkat sendiri oleh Venezuela.

Sekretaris Jenderal OPEC Mohammad Barkindo dan pejabat OPEC lainnya dijadwalkan bakal menggelar makan malam dengan perwakilan perusahaan minyak shale AS di sela-sela berlangsungnya konferensi pada Senin malam waktu setempat.

Presiden OPEC Suhail Mohamed Al Mazrouei menyatakan, OPEC belum membicarakan kemungkinan untuk memperpanjang kesepakatan pemangkasan produksi hingga tahun depan.


"Kami rasa pasar masih menggantung (market overhang/kondisi di mana harga diyakini masih berpotensi turun),"kata pria yang juga menjabat sebagai Menteri Perminyakan Uni Emirat Arab.

OPEC dan produsen minyak besar dunia sepakat untuk memangkas produksinya sekitar US$1,8 juta barel untuk mengurangi kelebihan pasokan minyak global. Kesepakatan ini berlangsung sejak Januari 2017 dan akan berakhir pada Desember 2018.

Pada Senin kemarin, Badan Energi Internasional (IEA) memperkirakan permintaan minyak global tahunan secara rata-rata bakal tumbuh kuat di kisaran 1,1 persen pada 2023 dan OPEC bakal gagal untuk secara signifikan meningkatkan kapasitas produksinya.

Untuk memenuhi pertumbuhan permintaan, IEA menyatakan bahwa produksi minyak shale AS bakal melonjak selama lima tahun ke depan, mencuri pangsa pasar produsen anggota OPEC dan menggerakkan posisi AS dari yang sebelumnya importir minyak terbesar menuju negara yang mampu mencukupi kebutuhannya. (bir)