Potensi Perang Dagang Tekan Harga Minyak Dunia

Safyra Primadhyta, CNN Indonesia | Jumat, 09/03/2018 06:51 WIB
Potensi Perang Dagang Tekan Harga Minyak Dunia Harga minyak mentah berjangka Brent merosot 1,1 persen dan AS WTI turun 1,7 persen. Penurunan disinyalir karena pelemahan dolar AS dan potensi perang dagang. (REUTERS/Sergei Karpukhin).
Jakarta, CNN Indonesia -- Harga minyak dunia kembali terperosok pada perdagangan Kamis (8/3), waktu Amerika Serikat (AS). Penurunan disebabkan oleh sejumlah faktor mulai dari penguatan dolar AS, sinyal kenaikan persediaan di hub penyimpanan Cushing, Oklahoma, kenaikan produksi minyak mentah AS, hingga kekhawatiran investor terhadap potensi perang dagang.

Dilansir dari Reuters Jumat (9/3), harga minyak mentah berjangka Brent merosot US$0,73 atau 1,1 persen menjadi US$63,61 per barel. Penurunan lebih dalam terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI), yaitu sebesar US$1,03 atawa 1,7 persen menjadi US$60,32 per barel.

Secara mingguan, Brent berpotensi akan melorot sekitar 0,8 persen pekan ini, setelah pekan lalu terseret 4,4 persen. Sementara, WTI diperkirakan melorot 1,5 persen, setelah pekan lalu amblas 3,6 persen.
"Sepertinya harga minyak mentah telah mencapai puncaknya dan sekarang mengarah ke level lebih rendah," ujar Kepala Analis Teknis United-ICAP Walter Zimmerman.


Zimmerman memperkirakan harga minyak mentah bergerak menuju level terendah pada awal Februari, yaitu US$62 per barel untuk harga Brent dan US$57 per barel untuk WTI.

"Dan saya tidak yakin bahwa level-level tersebut bakal bertahan," ujarnya.
Indeks dolar AS menguat 0,6 persen melawan mata uang beberapa negara. Penguatan dolar mengakibatkan harga komoditas yang diperdagangkan dengan dolar AS, seperti minyak, menjadi relatif semakin mahal bagi pemegang mata uang lain.

Tekanan pada harga minyak mentah juga berasal dari data perusahaan analisis pasar Genscape yang diungkap oleh para pelaku pasar. Data tersebut menunjukkan kenaikan persediaan pada hub penyimpanan Cushing, Oklahoma, sebesar 290 ribu pada pekan yang berakhir 6 Maret 2018.

Kenaikan tersebut, jika terkonfirmasi oleh data resmi, bakal menjadi kenaikan pertama dalam 12 minggu di Cushing, di mana persediaan lebih dari separuh sejak November 2017.
Berdasarkan data Badan Administrasi Informasi Energi AS (EIA) yang dirilis Rabu lalu, produksi minyak mentah AS mencetak rekor hampir menyentuh 10,4 juta barel per hari (bph) sepanjang pekan lalu.

Sentimen terhadap AS yang memantik perang dagang global juga memberikan tekanan pada harga.

"Hingga masalah tarif AS terselesaikan, kami rasa ada pemicu penurunan tajam yang baru pada pasar modal dan dapat dengan mudah merembes pada pasar minyak," terang Jim Ritterbusch, Presiden perusahaan penasihat perminyakan Ritterbusch & Associates.
Produksi minyak diperkirakan melampaui 11 juta bph pada akhir 2018, membatasi efektivitas kesepakatan pemangkasan produksi yang dilakukan oleh Organisasi Negara Pengekspor Minyak dan sekutunya, termasuk Rusia.

Di sisi lain, impor minyak mentah dari China pada Februari lalu juga dilaporkan menurun. Hal itu juga ikut membebani harga minyak.

Goldman Sachs merilis ulang proyeksi permintaan minyak global untuk tahun ini sebesar 1,85 juta bph. Proyeksi itu dibuat meskipun ada sinyal perlambatan tipis baru-baru ini yang ditunjukkan oleh kuatnya permintaan di awal tahun dan pola laju permintaan pada kuartal II. (bir)